‎Reses DPRD Bojonegoro di Megale: Sutikno Serap Keluhan Warga soal KIS hingga Pupuk

BOJONEGOROtimes.Id – Anggota DPRD Bojonegoro Fraksi PKB, H. Sutikno, S.Pd.I., M.AP., menggelar reses Masa Sidang II 2026 di Desa Megale, Kecamatan Kedungadem, Selasa (25/8/2026) malam.

‎Forum tersebut diikuti masyarakat dari Dapil IV yang meliputi Bubulan, Sugihwaras, Kedungadem, Temayang, Gondang, dan Sekar.

‎Reses menjadi kesempatan warga menyampaikan persoalan sekaligus usulan pembangunan secara langsung kepada wakil mereka di legislatif.

‎Berbagai aspirasi yang muncul mencakup kesehatan, pertanian, insentif keagamaan, hingga kebutuhan infrastruktur.

‎Sutikno mengatakan seluruh masukan masyarakat akan menjadi bahan untuk diperjuangkan dalam pembahasan bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

‎Menurutnya, pertemuan langsung dengan konstituen penting agar kebijakan yang disusun benar-benar sesuai kebutuhan warga.

‎Ia juga menyinggung kondisi fiskal daerah yang mengalami penyesuaian pada 2026 serta harus menyesuaikan sejumlah program pemerintah pusat.

‎“Reses ini menjadi kesempatan kami bertemu langsung dengan konstituen. Aspirasi masyarakat akan kami bawa dalam pembahasan bersama pemerintah daerah,” ujarnya.

‎Dalam forum tersebut, keberlanjutan insentif bagi guru madin, guru TPQ, serta modin perempuan turut menjadi perhatian.

‎Sutikno menyebut anggaran untuk program tersebut tetap berlanjut dalam APBD Induk 2026 setelah melalui pembahasan eksekutif dan legislatif.

‎Selain itu, masyarakat juga menyampaikan persoalan kepesertaan KIS yang dinilai belum sepenuhnya aktif bagi seluruh anggota keluarga.

‎“Alhamdulillah, dalam pembahasan APBD Induk 2026, anggaran untuk program insentif guru madin, guru TPQ, dan modin perempuan tetap berlanjut,” tegasnya.

‎Warga juga mengeluhkan distribusi pupuk bersubsidi yang masih menjadi persoalan bagi petani di lapangan.

‎Sutikno menegaskan aspirasi tersebut akan diteruskan kepada pemerintah agar penyaluran pupuk dapat semakin tepat sasaran.

‎Ia menyampaikan bahwa kendala pupuk tidak selalu berkaitan dengan ketersediaan stok, tetapi juga bisa terjadi pada mekanisme distribusi dan persyaratan penerima.

‎“Kalau ada persoalan di lapangan, akan kami tampung dan sampaikan kepada pemerintah,” katanya.

‎Untuk sektor infrastruktur dan kebutuhan air, Sutikno menyampaikan adanya program pembangunan sumur bor di wilayah Kedungadem.

‎Pada 2026, anggaran sekitar Rp4,8 miliar dialokasikan untuk pembangunan sumur bor di 92 titik.

‎Program tersebut diharapkan mampu membantu pemenuhan kebutuhan air masyarakat sekaligus mendukung aktivitas pertanian.

‎Ia pun meminta warga terus menyampaikan persoalan agar dapat diperjuangkan melalui jalur legislatif.

‎Sutikno menegaskan pintu komunikasi dengan masyarakat tetap terbuka meski kegiatan reses telah selesai.

‎Aspirasi yang disampaikan warga akan menjadi bagian dari bahan perjuangan dalam pembahasan kebijakan dan anggaran daerah.

‎“Silakan kalau ada persoalan atau usulan yang berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro disampaikan. Tugas kami adalah membawa aspirasi itu untuk diperjuangkan,” pungkasnya. (Az)