BOJONEGOROtimes.Id – Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mendorong masyarakat semakin siap menghadapi berbagai ancaman bencana.
Upaya tersebut diperkuat melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) di lima desa Kecamatan Kedungadem.
Program berlangsung 10-13 Agustus 2026 dengan melibatkan fasilitator Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur.
Lima desa sasaran yakni Kepohkidul, Geger, Babadkidul, Duwel dan Pejok.
Menurut Setyo Wahono, kesiapsiagaan tidak boleh dibangun setelah bencana terjadi.
Masyarakat harus memahami potensi ancaman yang ada di lingkungan masing-masing sejak jauh hari.
Setiap desa juga perlu memiliki strategi mitigasi sesuai karakteristik wilayah dan jenis bencana yang mungkin terjadi.
“Bencana itu kita tidak tahu kapan datangnya, tapi bisa dimitigasi,” ujar Bupati, Senin (10/8/2026).
Bupati menjelaskan, ancaman seperti angin kencang, puting beliung, kekeringan dan kebakaran membutuhkan penanganan yang berbeda.
Karena itu, potensi risiko harus terlebih dahulu dipetakan agar langkah antisipasi dapat ditentukan secara tepat.
Selain pemetaan, pelatihan dan sistem koordinasi antarunsur juga harus disiapkan sebelum kondisi darurat terjadi.
“Mitigasinya yang penting, makanya nanti diinventarisir kira-kira potensinya apa, setelah itu pelatihannya apa, kemudian koordinasinya harus dengan siapa,” jelasnya.
Setyo Wahono juga meminta keberadaan Destana tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan.
Kelembagaan, regulasi serta pembagian tugas di tingkat desa harus dibangun agar sistem kesiapsiagaan berjalan berkelanjutan.
Pemerintah desa, BPBD, relawan, tenaga medis dan masyarakat harus memahami perannya masing-masing.
“Pastikan di tiap-tiap desa itu ada kelembagaannya. Jangan sampai nanti tidak ada regulasinya. Setelah itu peran aktif masyarakat harus dibangun,” tegasnya.
Bupati menargetkan masyarakat mampu menjadi kekuatan utama dalam mengurangi risiko bencana di wilayahnya.
Dengan pengetahuan dan kesiapan yang memadai, warga diharapkan tidak hanya menunggu bantuan ketika terjadi keadaan darurat.
Desa harus memiliki kemampuan mengenali risiko, menyusun rencana serta mengambil langkah secara cepat dan terarah.
“Sehingga desa tidak hanya menjadi objek penanganan, tetapi mampu menjadi garda terdepan dalam mengurangi risiko dan melindungi warganya,” tegas Setyo Wahono.
Kesiapsiagaan juga menjadi penting karena Bojonegoro menghadapi peningkatan potensi kebakaran saat musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi menyebut terdapat 234 kejadian kebakaran sejak Januari hingga Agustus 2024.
Masyarakat diminta lebih berhati-hati dan tidak melakukan pembakaran sampah maupun rumput secara sembarangan.
“Jika pembakaran tidak dapat dihindari, pengawasan harus dilakukan secara ketat agar api tidak merembet dan memicu kebakaran yang lebih besar,” ungkapnya.
Melalui Destana, Pemkab Bojonegoro ingin membangun sistem penanggulangan bencana yang tumbuh dari masyarakat.
Penguatan mencakup kajian risiko, pembentukan kelembagaan, rencana kontingensi, simulasi dan aksi pengurangan risiko bencana.
Aparatur desa, relawan serta warga diharapkan memiliki kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi darurat.
Dengan demikian, desa dapat semakin mandiri dan tangguh dalam melindungi masyarakat dari berbagai ancaman bencana. (Prokopim)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,