LAMONGAN – Suasana penuh semangat terlihat di lahan pertanian semangka di Desa Jubellor, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan.
Memasuki musim tanam tahun ini, para petani mengaku lebih percaya diri karena pertumbuhan tanaman berlangsung sangat baik.
Hamparan semangka di lahan rawa kering sisi timur desa tampak menghijau dan berkembang merata.
Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi para petani setelah beberapa musim sebelumnya harus menghadapi berbagai kendala.
Tahun ini, perawatan tanaman dinilai lebih ringan karena cuaca cukup bersahabat, pasokan air melimpah, serta serangan penyakit yang jauh berkurang.
Harapan untuk memperoleh hasil panen maksimal pun semakin besar.

Salah satu petani milenial, Huda, mengatakan perkembangan tanaman semangka kali ini jauh lebih menggembirakan dibanding musim sebelumnya.
Hampir seluruh tanaman tumbuh sehat sehingga petani semakin optimistis menyambut masa panen dalam beberapa pekan ke depan.
”Kayaknya semangka kali ini akan berhasil, karena hampir rata tanaman terlihat subur, nyaris tidak ada penyakit yang menyulitkan,” ujar Huda, Rabu (5/8/2026).
Menurut Huda, keberhasilan musim tanam tahun ini tidak lepas dari ketersediaan air yang masih melimpah di kali atau wangan.
Kondisi itu memudahkan petani melakukan penyiraman, sehingga kebutuhan air tanaman tetap tercukupi setiap hari.
”Air di wangan sampai saat ini tetap penuh. Makanya banyak petani memilih mengairi dengan diesel karena kewalahan kalau menyiram pakai kocoran,” jelasnya.
Meski optimistis terhadap hasil panen, Huda berharap pemerintah melalui instansi pertanian lebih aktif memberikan pendampingan kepada petani.
Menurutnya, hingga saat ini belum ada petugas yang turun langsung ke lahan untuk memberikan edukasi maupun solusi terkait budidaya semangka.
Ia juga berharap dukungan pemerintah dan TNI dapat diberikan menjelang masa panen.
Pendampingan tersebut dinilai penting agar petani tidak kembali mengalami persoalan harga seperti yang terjadi pada musim panen sebelumnya.
”Sebentar lagi mau panen. Kami berharap pihak pertanian dan TNI bisa datang ke lokasi untuk membantu kami agar tidak terjadi lagi potongan harga seperti tahun lalu,” harap Huda.
Semangat para petani juga terlihat dari aktivitas mereka di lahan yang berlangsung hampir sepanjang hari.
Sejak pagi hingga sore mereka sibuk melakukan pemupukan, penyiraman, dan pengecekan tanaman.
Bahkan saat malam hari, tak sedikit petani yang datang membawa lampu senter kepala untuk memastikan kondisi tanaman tetap aman ataupun perawatan.

Di lokasi yang sama, Pakiman, petani yang setiap tahun menanam semangka dan melon saat lahan rawa mengering, mengaku kedua komoditas tersebut memiliki tingkat perawatan yang berbeda.
Menurutnya, budidaya melon membutuhkan perhatian lebih dibanding semangka.
”Kalau ditanya lebih susah mana antara melon dan semangka, ya jelas melon lebih ribet penanganannya,” kata Pakiman.
Ia menjelaskan tanaman melon harus diberi lanjaran sebagai penyangga, kemudian sulur diikat satu per satu agar tumbuh rapi.
Selain itu, tunas tertentu harus dipangkas dan buah juga perlu digantung agar kualitasnya tetap terjaga hingga masa panen.
”Buahnya juga ada yang saya buang. Satu sulur cukup satu atau dua buah saja supaya nutrisi tanaman lebih fokus dan hasilnya maksimal,” ungkapnya.
Meski pertumbuhan tanaman tahun ini sangat menjanjikan, para petani tetap menyimpan harapan besar agar harga jual saat panen nanti tetap stabil.
Mereka berharap tidak terjadi permainan harga dari para penebas maupun tengkulak sehingga hasil kerja keras selama berbulan-bulan dapat memberikan keuntungan yang layak bagi petani. (Az)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,