‎Tak Lagi Andalkan Migas, Bupati Dorong Bojonegoro Jadi Kota Wisata Medis

BOJONEGOROtimes.Id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai merancang strategi baru dalam memperkuat perekonomian daerah melalui sektor kesehatan.

‎Langkah tersebut digagas Bupati Setyo Wahono dengan mengembangkan konsep medical tourism atau wisata medis sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

‎Gagasan itu disampaikan saat menghadiri pelantikan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bojonegoro periode 2026–2029 di Hotel Aston Bojonegoro, Sabtu (11/7/2026).

‎Menurut Setyo Wahono, potensi sektor kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pelayanan masyarakat, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang besar apabila dikembangkan secara terarah.

‎Ia menilai Bojonegoro memiliki peluang menjadi tujuan layanan kesehatan tanpa harus mengandalkan sektor wisata konvensional.

‎Karena itu, kualitas pelayanan medis harus terus ditingkatkan agar mampu menarik masyarakat dari berbagai daerah.

‎”Kalau orang sehat belum tentu tertarik datang untuk berwisata, maka kita harus mampu membuat orang datang ke Bojonegoro karena membutuhkan pelayanan kesehatan terbaik,” ujar Setyo Wahono.

‎Bupati optimistis masyarakat akan memilih berobat ke Bojonegoro apabila rumah sakit mampu menghadirkan pelayanan yang profesional dan berkualitas.

‎Menurutnya, persoalan jarak maupun akses transportasi tidak akan menjadi hambatan apabila masyarakat sudah memiliki kepercayaan terhadap layanan kesehatan yang tersedia.

‎Kepercayaan pasien menjadi modal utama dalam membangun wisata medis.

‎Untuk mendukung target tersebut, Pemkab Bojonegoro mulai mengarahkan setiap rumah sakit agar memiliki layanan unggulan sesuai bidang masing-masing.

Langkah ini dilakukan agar fasilitas kesehatan tidak saling bersaing pada jenis pelayanan yang sama, tetapi saling melengkapi sesuai kebutuhan masyarakat.

‎Dengan demikian, kualitas layanan dapat berkembang lebih optimal.

‎RSUD Sosodoro dipersiapkan sebagai pusat layanan jantung sekaligus Digital Subtraction Angiography (DSA).

‎Sementara itu, RSUD Padangan diarahkan menjadi rumah sakit rujukan pelayanan kesehatan mata, sedangkan RSUD Sumberrejo difokuskan pada penguatan layanan kebidanan.

‎Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah.

‎Setyo Wahono juga menegaskan bahwa penguatan layanan kesehatan tidak hanya difokuskan pada rumah sakit milik pemerintah.

‎Menurutnya, rumah sakit swasta harus memperoleh ruang berkembang sehingga mampu menjadi mitra dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Bojonegoro.

‎Sinergi kedua sektor dinilai sangat penting.

‎”Rumah sakit swasta harus tumbuh. Jangan sampai yang swasta justru mati. Kami ingin semuanya berkembang karena dampaknya juga akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah,” tegasnya.

‎Ia menambahkan, kolaborasi antara rumah sakit pemerintah dan swasta akan memperkuat posisi Bojonegoro sebagai tujuan pelayanan kesehatan di tingkat regional maupun nasional.

‎Kehadiran pasien dari luar daerah diyakini tidak hanya menguntungkan sektor kesehatan, tetapi juga menggerakkan industri perhotelan, kuliner, transportasi, hingga pelaku UMKM.

‎Efek berganda tersebut diharapkan mampu memperkuat ekonomi daerah.

‎Pengembangan wisata medis juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Bojonegoro terhadap sektor minyak dan gas yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pendapatan daerah.

‎Diversifikasi sumber ekonomi dinilai penting agar pertumbuhan daerah lebih stabil dan berkelanjutan.

‎Karena itu, sektor kesehatan dipilih sebagai salah satu prioritas pembangunan.

‎Di akhir sambutannya, Bupati mengajak seluruh dokter yang tergabung dalam IDI Cabang Bojonegoro terus meningkatkan kompetensi, memperkuat kolaborasi, serta mengikuti perkembangan teknologi medis.

‎Ia juga menekankan pentingnya penyusunan master plan pembangunan rumah sakit agar pengembangan dilakukan secara terarah dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

‎”Saya punya mimpi yang besar untuk rumah sakit di Bojonegoro. Karena itu harus ada master plan yang jelas sehingga pembangunan tidak dilakukan secara asal,” katanya.

‎”Saya yakin dengan ide, kolaborasi, dan sinergi yang kuat, mimpi besar kita menjadikan Bojonegoro sebagai daerah dengan layanan kesehatan unggulan akan bisa terwujud,” pungkas Setyo Wahono. (Prokopim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *