BOJONEGOROtimes.Id – Persoalan kesejahteraan guru swasta kembali menjadi sorotan di tengah tuntutan peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Banyak guru swasta masih mengajar dalam keterbatasan ekonomi meski memiliki tanggung jawab besar mencerdaskan generasi bangsa.
Mereka tetap menjalankan tugas pendidikan dengan penuh pengabdian di sekolah maupun madrasah swasta.
Namun hingga kini, masih banyak yang belum mendapatkan perhatian dan perlindungan yang layak.
Guru swasta dinilai memiliki peran penting dalam sistem pendidikan nasional.
Di berbagai daerah, sekolah dan madrasah swasta justru menjadi penopang utama akses pendidikan masyarakat.
Keberadaan mereka membantu negara menghadirkan layanan pendidikan hingga pelosok daerah.
Meski demikian, kesejahteraan para pendidiknya masih jauh dari kata ideal.
Pengurus Pusat PGMM sekaligus Sekretaris PW PGMM Jawa Timur dan Ketua PIMDA PGMM Bojonegoro, Kang Galih, menilai stigma terhadap guru swasta harus segera dihentikan.
Menurutnya, guru swasta bukan hanya pegawai yayasan, tetapi bagian dari pendidikan nasional yang ikut membangun masa depan bangsa.
Ia menyebut selama ini banyak guru swasta kerap disudutkan ketika memperjuangkan kesejahteraannya.
Padahal mereka juga mengajar kurikulum negara dan mendidik anak-anak Indonesia.
“Banyak guru swasta hari ini selalu disudutkan ketika berbicara kesejahteraan. Seolah-olah guru swasta tidak boleh meminta perhatian negara dan cukup meminta kepada yayasan saja. Padahal kami juga bagian dari sistem pendidikan nasional,” ujar Kang Galih.
Kang Galih menegaskan negara perlu hadir melalui regulasi yang jelas dan berpihak kepada guru swasta.
Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk memberikan kepastian kesejahteraan, perlindungan profesi, serta masa depan yang lebih layak bagi para pendidik swasta.
Ia juga menilai persoalan ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada yayasan pendidikan.
Sebab sebagian besar yayasan hidup dari swadaya masyarakat dengan kemampuan terbatas.
“Negara harus hadir melalui regulasi yang jelas dan berpihak. Harus ada aturan khusus yang mampu mengakomodir guru swasta agar mendapatkan kepastian kesejahteraan dan perlindungan profesi,” tegasnya.
PGMM berharap pemerintah dan DPR RI segera menghadirkan kebijakan yang lebih adil bagi guru swasta di seluruh Indonesia.
Menurut Kang Galih, perjuangan guru swasta bukan soal meminta belas kasihan, melainkan menuntut keadilan atas pengabdian yang telah diberikan selama ini.
Ia menegaskan pendidikan nasional tidak hanya dibangun oleh sekolah negeri semata.
Melainkan juga oleh guru-guru swasta yang tetap berdiri di garis pengabdian meski penuh keterbatasan.
“Kami tidak sedang meminta belas kasihan. Kami hanya meminta keadilan. Sebab murid yang kami ajar juga anak Indonesia,” pungkas Kang Galih. (*)


















Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,