‎Bojonegoro Turunkan ASN ke Lapangan, Data Bansos Dicek Ulang Dua Pekan Penuh

BOJONEGOROtimes.Id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mulai melaksanakan tahapan Ground Check (GC) atau verifikasi lapangan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

‎Langkah ini dilakukan untuk memastikan data penerima program sosial benar-benar sesuai kondisi riil masyarakat.

‎Kegiatan tersebut berlangsung mulai Senin (11/05/2026) dan dijadwalkan berjalan selama dua pekan ke depan.

‎Pelaksanaan verifikasi melibatkan ASN dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Bojonegoro.

‎Mereka bekerja sama dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga tenaga penyuluh di masing-masing wilayah.

‎Kolaborasi ini dilakukan agar proses pemeriksaan data berjalan lebih menyeluruh dan objektif.

‎Ground Check DTSEN ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi yang dipimpin Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah pada 5 Mei 2026.

‎Selain itu, Sekretaris Daerah Edi Susanto juga menggelar rapat teknis pada 6 Mei untuk mematangkan pelaksanaan di lapangan.

‎Program ini sekaligus menindaklanjuti arahan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono terkait pentingnya validitas data penerima bantuan sosial.

‎Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro Agus Susetyo mengatakan bahwa akurasi data menjadi faktor penting dalam menentukan kebijakan pemerintah.

‎Menurutnya, seluruh kecamatan telah melaksanakan rapat koordinasi sebagai persiapan teknis sebelum petugas diterjunkan ke lapangan.

‎Verifikasi dilakukan secara serentak agar proses berjalan efektif dan akuntabel.

‎“Mulai kemarin telah dilakukan rakor persiapan di masing-masing kecamatan agar pelaksanaan ground check berjalan akuntabel. Hari ini ASN secara serentak mulai turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi selama dua minggu ke depan,” ujar Agus Susetyo, Selasa (12/05/2026).

‎Ia menjelaskan bahwa sebelumnya proses verifikasi dan validasi DTSEN telah dilakukan pada Januari hingga April 2026.

‎Dari hasil analisis ditemukan sejumlah anomali atau ketidaksesuaian data yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di lapangan.

‎Kejanggalan tersebut bisa jadi benar terjadi, namun ada pula yang diduga tidak sesuai fakta.

‎“Contohnya ditemukan pendapatan yang tidak sesuai, atau ada satu rumah dihuni oleh sembilan kepala keluarga, hingga luas rumah tidak sesuai,” jelasnya.

‎Menurut Agus, ground check menjadi tahapan penting untuk memastikan data kesejahteraan masyarakat benar-benar valid.

‎Pemeriksaan dilakukan dengan mencocokkan kondisi lapangan berdasarkan indikator utama yang digunakan Badan Pusat Statistik (BPS).

‎Indikator tersebut meliputi tingkat pendidikan, kepemilikan aset, pendapatan keluarga, hingga kondisi tempat tinggal warga.

‎Melalui kegiatan ini, Pemkab Bojonegoro berharap mampu menghasilkan basis data sosial ekonomi yang lebih bersih dan terpercaya.

‎Dengan data yang akurat, berbagai program bantuan dan anggaran pemerintah diharapkan dapat tersalurkan secara tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *