BOJONEGOROtimes.Id – Komisi B DPRD Kabupaten Bojonegoro menggelar rapat kerja (raker) bersama Dinas Kesehatan dan seluruh kepala puskesmas se-Bojonegoro, Selasa (05/05/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Badan Anggaran DPRD itu membahas penguatan pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) guna mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan sekaligus mendorong kontribusi terhadap pendapatan daerah.
Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri, menjelaskan bahwa status BLUD memberikan ruang fleksibilitas dalam tata kelola keuangan puskesmas.
Menurutnya, kewenangan tersebut harus dimanfaatkan secara maksimal agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal dan pengelolaan anggaran berjalan transparan.
“Puskesmas tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas kesehatan dasar. Dengan status BLUD, mereka juga dituntut mampu mengelola anggaran secara profesional tanpa mengurangi mutu pelayanan kepada masyarakat,” ujar Lasuri.
Dalam rapat tersebut, anggota Komisi B DPRD Bojonegoro, Sutikno, menyoroti pentingnya membangun kemandirian puskesmas.
Ia meminta seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama melakukan evaluasi terhadap kualitas layanan agar masyarakat tidak selalu memilih rumah sakit sebagai tujuan utama berobat.
“Ini menjadi tantangan bersama. Jangan sampai masyarakat merasa pelayanan di puskesmas tidak berkembang sehingga lebih memilih rumah sakit. Harus ada inovasi dan peningkatan kualitas pelayanan,” kata Sutikno.
Selain itu, Sutikno juga mengingatkan persoalan legalitas aset dan keterbatasan lahan yang dimiliki sejumlah puskesmas di Bojonegoro.
Menurutnya, kejelasan status tanah menjadi faktor penting agar rencana pembangunan fasilitas kesehatan ke depan tidak menemui hambatan hukum.
“Sebagian puskesmas lahannya masih terbatas. Legalitas aset harus dipastikan aman supaya pembangunan dan pengembangan layanan tidak terkendala di kemudian hari,” tambahnya.
Anggota Komisi B lainnya, Sally Atyasasmi, menekankan perlunya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat terkait perubahan kebijakan layanan BPJS Kesehatan.
Ia menilai pemahaman masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung integrasi pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas.
“Setiap perubahan aturan wajib segera disosialisasikan. Kalau masyarakat memahami sistem layanan yang ada dan pelayanan puskesmas semakin baik, tentu minat berobat ke puskesmas akan meningkat,” jelas Sally.
Sementara itu, anggota DPRD Bojonegoro dr. Didik menilai keberhasilan puskesmas tidak hanya diukur dari tingginya pendapatan.
Menurutnya, kondisi masyarakat yang semakin sehat justru menjadi indikator utama keberhasilan layanan kesehatan daerah.
“Pendapatan besar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Jika masyarakat sehat dan angka kunjungan menurun karena kondisi kesehatan membaik, itu justru capaian yang positif,” tegas dr. Didik.
Hal senada disampaikan anggota DPRD lainnya, Doni, yang menyinggung capaian Universal Health Coverage (UHC) Bojonegoro yang telah mencapai 99 persen.
Meski demikian, ia meminta pemerintah tetap memperhatikan kondisi fisik sejumlah fasilitas kesehatan yang masih berdiri di atas lahan milik warga.
“Capaian UHC ini patut diapresiasi, tetapi persoalan bangunan puskesmas yang masih berada di tanah warga juga harus segera dituntaskan,” ujar Doni.
Mewakili Dinas Kesehatan Bojonegoro, Sekretaris Dinas Kesehatan Dwi Setyorini, S.KM., MHSM, memaparkan bahwa saat ini terdapat 35 puskesmas di Bojonegoro.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 puskesmas telah memiliki layanan rawat inap, sedangkan 9 lainnya masih melayani rawat jalan.
Ia juga menyampaikan perkembangan pembangunan RS Tanjungharjo dan RS Ngraho yang kini masih dalam tahap penyelesaian.
Menurutnya, Dinas Kesehatan akan terus melakukan pendampingan kepada seluruh kepala puskesmas agar target layanan dan pendapatan dapat berjalan seimbang.
“Kami terus mendorong peningkatan mutu fasilitas kesehatan, mulai dari ruang rawat inap hingga pelayanan laboratorium di tingkat kecamatan,” ungkap Dwi Setyorini.
Dalam kesempatan itu, Dwi juga menegaskan bahwa kader posyandu tetap menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan edukasi kesehatan masyarakat, termasuk penanganan stunting dan penerapan Integrasi Layanan Primer (ILP).
“Kader posyandu memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama terkait stunting dan implementasi layanan primer,” tambahnya.
Menutup rapat kerja tersebut, pimpinan rapat meminta seluruh kepala puskesmas meningkatkan kualitas pelayanan secara humanis kepada masyarakat.
Kemudahan dalam proses rujukan pasien juga menjadi perhatian agar masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan nyaman.
“Masyarakat yang datang berobat membutuhkan pelayanan terbaik. Walaupun ada efisiensi anggaran, pelayanan kesehatan kepada warga tidak boleh menurun dan harus terus ditingkatkan,” pungkasnya. (Az)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,