PAMEKASAN – Budaya literasi di lingkungan pesantren kembali mencuri perhatian publik.
Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Pamekasan Madura berhasil melahirkan ratusan karya santri ber-ISBN, termasuk puluhan buku berbahasa Inggris.
Fenomena ini dinilai sebagai bentuk transformasi pendidikan pesantren yang mulai bergerak dari budaya membaca menuju budaya menciptakan pengetahuan.
Dosen Pascasarjana UIN Madura, Heni Listiana, menyebut capaian tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan lahirnya kesadaran baru di dunia pesantren.
“Santri tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pencipta teks,” ujarnya.
Pada awal Mei 2026, IBS PKMKK kembali merilis sembilan karya terbaru dari para santri dengan beragam tema dan genre.
Salah satu karya yang menjadi sorotan ialah novel berbahasa Inggris berjudul Moonstruck With You karya Naurah Resa Alana dengan nama pena Sang Kinasih.
Selain itu, terdapat sejumlah buku lain seperti Masa Depan, Gema Tanpa Suara, hingga A Whistle Blower yang menggambarkan beragam pemikiran, kritik sosial, hingga pergulatan identitas generasi muda pesantren.
Menurut Heni, selama empat tahun terakhir IBS PKMKK telah menerbitkan 206 karya santri melalui penerbit resmi, dengan 26 di antaranya menggunakan bahasa Inggris.
“Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi indikator perubahan budaya pendidikan di pesantren,” katanya.
Tradisi talaqqi dan pembelajaran kitab kini diperluas dengan kemampuan membaca realitas sosial dan menuangkannya dalam karya tulis.
Ia menjelaskan, aktivitas menulis juga menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas diri santri.
Melalui karya tulis, para santri memiliki ruang untuk mengekspresikan pengalaman batin, harapan, hingga kritik sosial secara lebih konstruktif.
“Menulis buku pada usia muda bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi proses memahami diri sendiri,” ungkap Heni.
IBS PKMKK Pamekasan juga dinilai berhasil menciptakan lingkungan pendidikan yang memberi rasa aman psikologis bagi santri untuk berkembang.
Dukungan guru dan budaya institusi membuat para santri berani bereksperimen dalam menulis tanpa takut dihakimi.
Kondisi tersebut dinilai menjadi faktor penting tumbuhnya kreativitas dan keberanian berpikir di kalangan generasi muda pesantren.
Heni menambahkan, hadirnya puluhan karya berbahasa Inggris menunjukkan bahwa pesantren kini mulai membangun kesadaran global tanpa meninggalkan identitas lokalnya.
“Bahasa Inggris menjadi medium untuk membawa identitas pesantren ke panggung dunia,” jelasnya.
Menurutnya, santri hari ini tidak hanya menjadi konsumen peradaban global, tetapi juga produsen gagasan yang mampu berkontribusi secara internasional.
Fenomena literasi di IBS PKMKK Pamekasan menjadi gambaran perubahan besar dalam dunia pendidikan Islam.
Pesantren tidak lagi dipandang hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga ruang lahirnya kreativitas intelektual dan peradaban literasi baru.
“Di tangan generasi muda ini, pena menjadi simbol keberanian berpikir dan harapan masa depan,” pungkasnya. (*)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,