BOJONEGOROtimes.Id – PT Pupuk Indonesia menggelar kegiatan Gebyar Petroganik di Cafe Baresta Bojonegoro, Selasa (27/4/2026).
Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah bersama sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian serta Disperindag.
Kegiatan ini menjadi momentum penguatan sektor pertanian sekaligus apresiasi terhadap para pelaku distribusi pupuk bersubsidi.
Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang acara berlangsung.
Dalam kegiatan tersebut, PT Pupuk Indonesia memberikan penghargaan kepada 62 Kios Pupuk Lengkap (KPL) dan 28 petugas verifikasi lapangan atau verpal.
Penghargaan diberikan atas kontribusi mereka dalam mendukung kelancaran distribusi pupuk subsidi kepada petani.
Penilaian dilakukan berdasarkan ketepatan penyaluran serta pelayanan kepada masyarakat.
Langkah itu diharapkan mampu meningkatkan semangat para distributor pupuk di daerah.
Manajer PT Pupuk Indonesia Wilayah Jatim 1 Region 3A, Sutikno Wahyu Dimas Adi Prakoso memastikan stok pupuk subsidi di Bojonegoro masih dalam kondisi aman.
Menurutnya, persediaan pupuk yang berada di gudang lini III cukup untuk memenuhi kebutuhan musim tanam kedua hingga ketiga.
Distribusi pupuk pada periode April hingga Mei juga dipastikan berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Kondisi tersebut memberi kepastian bagi petani menjelang masa tanam berikutnya.
“Sebagian besar kios pupuk lengkap di Bojonegoro memiliki stok lebih dari satu ton. Petani tidak perlu khawatir karena distribusi pupuk bersubsidi tetap kami jaga,” ujar Sutikno.
Ia menjelaskan, sekitar 85 persen dari lebih 300 KPL di Bojonegoro telah memiliki cadangan pupuk yang memadai.
Hal ini dinilai menjadi indikator positif bagi keberlangsungan produksi pertanian di wilayah tersebut.
Dengan stok yang cukup, kebutuhan pupuk petani diperkirakan tetap terpenuhi selama musim tanam berlangsung.
PT Pupuk Indonesia juga terus melakukan pemantauan distribusi di lapangan.
Sementara itu, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menyampaikan bahwa Bojonegoro saat ini menempati posisi kedua nasional dalam penyerapan pupuk nitrogenik.
Capaian tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya penggunaan pupuk untuk produktivitas pertanian.
Namun, di balik keberhasilan itu terdapat tantangan besar yang harus segera diatasi pemerintah daerah.
Salah satunya adalah terus menurunnya jumlah petani dalam beberapa tahun terakhir.
“Kesadaran petani dalam penggunaan pupuk sudah sangat baik. Tetapi kita juga harus memikirkan keberlanjutan sektor pertanian ke depan,” kata Nurul Azizah.
Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah petani di Bojonegoro mengalami penurunan cukup drastis dalam satu dekade terakhir.
Pada tahun 2013 tercatat sebanyak 366.484 petani, lalu turun menjadi 333.951 pada 2023.
Bahkan pada tahun 2024 jumlah tersebut merosot hingga 191.588 orang.
Penurunan hampir 40 persen itu menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Selain penurunan jumlah petani, persoalan regenerasi juga dinilai semakin mengkhawatirkan.
Mayoritas petani di Bojonegoro saat ini berusia lanjut dengan angka lebih dari 134 ribu orang berumur di atas 64 tahun.
Kondisi tersebut membuat pemerintah mulai mendorong transformasi menuju sistem pertanian modern.
Penggunaan alat dan mesin pertanian dinilai menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja.
“Kalau pertanian tidak segera dimodernisasi, generasi muda akan semakin enggan masuk ke sektor ini,” ungkap Nurul Azizah.
Pemkab Bojonegoro juga melihat peluang besar dalam pengembangan pupuk organik lokal.
Selain mendukung pertanian berkelanjutan, langkah itu diyakini mampu membuka lapangan kerja baru di tingkat desa.
Pengembangan sektor tersebut diharapkan dapat memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kualitas lahan pertanian.
Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha pun terus didorong.
Di tengah berbagai tantangan yang ada, sektor pertanian Bojonegoro masih menunjukkan hasil positif.
Produksi padi daerah ini mengalami kenaikan signifikan dalam satu tahun terakhir.
Dari sebelumnya sekitar 710 ribu ton, kini meningkat menjadi 864 ribu ton.
Peningkatan tersebut menjadi bukti bahwa produktivitas pertanian Bojonegoro terus berkembang.
Meski demikian, ancaman musim kemarau panjang tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.
Petani diminta lebih cermat dalam menentukan jenis tanaman agar terhindar dari risiko gagal panen.
Adaptasi terhadap perubahan cuaca dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Pemerintah berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga ketahanan pangan daerah di masa mendatang. (Prokopim)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,