‎Medhayoh di Malo, Bupati Bojonegoro Bahas Beasiswa Miskin hingga Bantuan Sosial

BOJONEGOROtimes.Id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali menunjukkan komitmennya dalam mendekatkan pelayanan kepada masyarakat melalui program “Bupati Medhayoh, Tilik Dulur, Nyambung Roso, Monggo Nandur”.

‎Kegiatan edisi ketujuh tersebut digelar di Desa Sudah, Kecamatan Malo, Kamis (30/4/2026), dengan fokus pembahasan mengenai beasiswa masyarakat miskin dan bantuan sosial.

‎Bupati Bojonegoro Setyo Wahono hadir bersama Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua TP PKK Cantika Wahono untuk berdialog langsung dengan warga.

‎Suasana berlangsung akrab karena masyarakat diberi kesempatan menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi secara terbuka.

‎Turut hadir dalam kegiatan itu jajaran kepala OPD, Forkopimcam, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga warga dari berbagai desa di Kecamatan Malo.

‎Mayoritas aspirasi yang muncul berkaitan dengan akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu serta pemerataan bantuan sosial.

‎Warga berharap program pemerintah dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan.

‎Dialog interaktif tersebut juga menjadi ruang komunikasi langsung antara pemerintah daerah dan masyarakat.

‎Bupati Setyo Wahono mengatakan kegiatan Medhayoh menjadi salah satu cara pemerintah memahami kebutuhan riil masyarakat di lapangan.

‎Menurutnya, pendidikan harus tetap bisa diakses seluruh warga tanpa terkendala persoalan ekonomi keluarga.

‎“Melalui forum ini kami ingin mendengar langsung apa yang dibutuhkan masyarakat dan mencari solusi bersama agar kesempatan pendidikan tetap terbuka,” ujar Setyo Wahono.

‎Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus berupaya menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil.

‎Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah menilai dialog terbuka seperti ini penting agar program pemerintah berjalan tepat sasaran.

‎Ia menyebut aspirasi masyarakat yang disampaikan secara langsung dapat menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan kebijakan daerah.

‎“Alhamdulillah masyarakat sangat antusias dan banyak masukan yang bisa langsung direspons oleh Pak Bupati,” kata Nurul Azizah.

‎Menurutnya, komunikasi yang baik antara pemerintah dan warga menjadi kunci pembangunan yang merata.

‎Dalam sesi dialog, Muhammad Mukhlis Inalauddin, warga Desa Petak, mempertanyakan peluang beasiswa bagi masyarakat miskin yang berusia di atas 20 tahun.

‎Ia menyampaikan masih banyak warga yang tertunda kuliah karena keterbatasan ekonomi dan baru memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan di usia dewasa.

‎Menanggapi hal tersebut, Bupati mengaku aturan beasiswa saat ini memang memiliki batasan usia tertentu.

‎Namun pemerintah daerah membuka kemungkinan melakukan evaluasi terhadap kebijakan tersebut.

‎“Nanti akan kami kaji kembali. Jika memang ada semangat kuat untuk melanjutkan pendidikan dan memenuhi syarat, tentu bisa dipertimbangkan melalui kebijakan khusus,” jelas Bupati Setyo Wahono.

‎Pernyataan itu langsung mendapat respons positif dari warga yang hadir dalam forum tersebut.

‎Masyarakat berharap kebijakan pendidikan di Bojonegoro semakin inklusif dan memberi kesempatan lebih luas bagi warga kurang mampu.

‎Terutama bagi mereka yang sempat tertunda mengenyam pendidikan tinggi karena faktor ekonomi keluarga.

‎Pertanyaan lain datang dari Robert, pemuda asal Desa Rendeng, terkait bantuan sosial bagi masyarakat kategori Desil 6.

‎Ia berharap kelompok masyarakat tersebut tetap mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah.

‎Menanggapi hal itu, Bupati menjelaskan bahwa sistem desil mengacu pada klasifikasi tingkat kesejahteraan yang ditetapkan pemerintah pusat.

‎Menurutnya, masyarakat pada kategori Desil 6 umumnya sudah tergolong cukup mampu secara ekonomi.

‎“Harapannya masyarakat yang berada di Desil 6 dapat ikut membantu masyarakat di Desil 1 dan 2, misalnya dengan menciptakan lapangan kerja atau usaha produktif,” tegasnya.

‎Ia menambahkan pemerintah ingin mendorong terciptanya kemandirian ekonomi dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

‎Dengan begitu, bantuan sosial dapat lebih difokuskan kepada kelompok warga yang benar-benar membutuhkan.

‎Konsep tersebut dinilai penting untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

‎Program Medhayoh sendiri terus menjadi sarana pendekatan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan masyarakat hingga tingkat desa.

‎Selain menyerap aspirasi, kegiatan ini juga menjadi ruang evaluasi berbagai program pembangunan daerah.

‎Pemerintah berharap komunikasi dua arah yang dibangun melalui Medhayoh mampu melahirkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

‎Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat Bojonegoro dapat meningkat secara merata di berbagai sektor. (Prokopim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *