BOJONEGOROtimes.Id – Komitmen besar menuju kemandirian pangan berkelanjutan mulai diwujudkan di Kabupaten Bojonegoro.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) resmi mengembangkan varietas padi unggul Gamagora 7 hasil kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada.
Panen perdana digelar di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Sabtu (28/2/2026).
Momentum ini menjadi langkah awal memperkuat ketahanan pangan daerah berbasis inovasi dan riset.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Bojonegoro Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar.
Turut hadir jajaran Forkopimda, Dandim 0813, Kapolres, Sekda, Kepala DKPP, Kepala BPS, hingga Forkopimcam Kepohbaru.
Kepala desa, ketua kelompok tani, dan gapoktan juga memadati lokasi panen raya.
Kehadiran lintas unsur ini menunjukkan keseriusan bersama membangun sektor pertanian.
Wakil Dekan Bidang Kerja Sama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, SP., M.Sc., Ph.D., turut mendampingi proses pengembangan varietas tersebut.
UGM memberikan pembinaan teknis sekaligus penguatan kapasitas petani dalam budidaya Gamagora 7.
Sinergi akademisi dan pemerintah daerah menjadi kunci keberhasilan inovasi pertanian ini.
Pendekatan ilmiah diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara terukur dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Wahono menegaskan bahwa pertanian menjadi prioritas utama arah kebijakannya.
Ia ingin Bojonegoro memiliki daya saing tinggi di sektor pangan.
“Sejak awal menjabat, saya ingin pertanian Bojonegoro benar-benar maju dan berdaya saing,” tegas Wahono.
Menurutnya, kemajuan pertanian adalah fondasi kesejahteraan masyarakat desa.
Wahono mengapresiasi peran UGM yang telah memberikan pendampingan intensif kepada petani.
Ia menilai inovasi varietas unggul menjadi strategi penting untuk meningkatkan hasil panen.
“Tahun lalu hasil pertanian kita terdampak banjir, khususnya di Baureno. Tahun ini kita harus bangkit,” ujarnya.
Ia optimistis Bojonegoro mampu menyamai bahkan melampaui daerah sentra padi seperti Ngawi dan Lamongan.
Tak hanya itu, Wahono memasang target ambisius pada 2028.
Ia menargetkan Bojonegoro menjadi kabupaten dengan produksi padi tertinggi di Indonesia.
“Kita harus berimbang, bahkan melampaui Lamongan dan Ngawi,” tandasnya penuh keyakinan.
Target tersebut disebutnya realistis selama konsistensi program tetap terjaga.
Persoalan air menjadi perhatian serius dalam meningkatkan produktivitas.
Bupati menilai pengelolaan irigasi harus dibenahi secara menyeluruh.
“Embung desa dan normalisasi kali harus menjadi prioritas. Target 2028 bukan sekadar mimpi,” tegasnya lagi.
Ia meminta dinas terkait fokus menata sistem tata kelola air agar stabil sepanjang musim.
Varietas Gamagora 7 sendiri dinilai memiliki potensi hasil tinggi serta adaptif terhadap kondisi lahan tertentu.
Dengan pendampingan akademisi, petani Kepohbaru optimistis produksi padi akan meningkat signifikan.
Panen di Bayemgede menjadi simbol komitmen bersama menuju swasembada pangan yang kokoh.
Jika pengelolaan air dan inovasi berjalan konsisten, Bojonegoro berpeluang menjelma menjadi lumbung padi nasional. (*)


















Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,