‎P-APBD 2026 Bojonegoro: Golkar Minta PAD Digenjot dan SiLPA Dievaluasi

BOJONEGOROtimes.Id – Fraksi Partai Golkar DPRD Kabupaten Bojonegoro menyoroti sejumlah persoalan dalam Rancangan Perubahan APBD (P-APBD) Tahun Anggaran 2026.

‎Pandangan umum fraksi disampaikan Annafiy Aisya Sahila, S.H., dalam rapat paripurna DPRD Bojonegoro, Rabu (26/8/2026).

‎Fraksi Golkar mencermati pendapatan daerah yang turun dari Rp4,566 triliun menjadi Rp4,389 triliun.

‎Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) justru naik dari Rp1,086 triliun menjadi Rp1,106 triliun.

‎Kenaikan PAD tersebut dinilai positif, namun belum cukup mengurangi ketergantungan terhadap transfer pusat.

‎“Peningkatan sebesar 1,81 persen belum cukup untuk menjawab persoalan fundamental mengenai kemandirian fiskal daerah,” katanya.

‎Golkar juga mempertanyakan penurunan target pajak daerah sebesar Rp8,418 miliar.

‎Pemerintah daerah diminta menjelaskan penyebab penurunan sekaligus menyusun strategi peningkatan PAD melalui digitalisasi, perluasan basis pajak, optimalisasi aset daerah, UMKM, pariwisata, perdagangan, jasa, parkir dan reklame.

‎Sorotan lain diarahkan pada realisasi belanja daerah yang hingga Juni 2026 baru mencapai 25,51 persen.

‎Lebih khusus, realisasi belanja modal hanya 4,44 persen, padahal dalam P-APBD belanja modal dinaikkan dari Rp952,938 miliar menjadi Rp1,408 triliun atau meningkat 47,77 persen.

‎Pihaknya meminta kenaikan belanja modal diikuti perencanaan dan pelaksanaan yang matang.

‎Pemerintah daerah juga diminta menyampaikan daftar kegiatan, lokasi, nilai anggaran, target penyelesaian serta manfaat langsung bagi masyarakat agar penambahan anggaran benar-benar menghasilkan pembangunan.

‎“Penambahan anggaran tidak otomatis berarti peningkatan kualitas pembangunan,” tegasnya.

‎Fraksi Golkar mendorong belanja modal diprioritaskan untuk kebutuhan dasar masyarakat, seperti jalan dan jembatan, irigasi, pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi serta fasilitas pelayanan publik.

‎Selain pembangunan baru, pemeliharaan infrastruktur yang telah ada juga dinilai perlu diperkuat.

‎Ia juga turut menyoroti penggunaan SiLPA sebagai sumber pembiayaan daerah.

‎Penerimaan pembiayaan dalam P-APBD 2026 naik dari Rp1,945 triliun menjadi Rp2,073 triliun atau bertambah sekitar Rp127,589 miliar yang bersumber dari SiLPA tahun sebelumnya.

‎Fraksi Golkar meminta Pemkab Bojonegoro mengevaluasi sumber SiLPA secara rinci, terutama yang berasal dari efisiensi, kegiatan tidak terlaksana, keterlambatan kegiatan, pelampauan pendapatan maupun dana yang wajib dicadangkan.

‎Evaluasi tersebut penting agar SiLPA tidak terus muncul akibat lemahnya perencanaan dan rendahnya serapan anggaran.

‎Meski memberikan sejumlah catatan kritis, Fraksi Golkar menyatakan mendukung pembahasan lebih lanjut P-APBD 2026.

‎Dukungan diberikan dengan catatan seluruh pertanyaan, kritik dan rekomendasi fraksi dijawab secara substantif serta ditindaklanjuti dalam pembahasan bersama DPRD dan Pemkab Bojonegoro.

‎Fraksi Partai Golkar menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra Pemerintah Daerah yang kritis, konstruktif dan solutif. (Az)