BOJONEGOROtimes.Id – Rencana study tour ke Bali yang digelar SMA Negeri 3 Bojonegoro justru memantik kritik keras dari wali murid.
Kegiatan yang seharusnya menjadi sarana pembelajaran di luar kelas kini dinilai berubah arah menjadi beban finansial.
Sejumlah orang tua mempertanyakan urgensi program tersebut di tengah kondisi ekonomi yang tidak merata.
“Study tour itu bagus, tapi jangan sampai jadi beban yang memaksa,” ujar salah satu wali murid, Senin (6/4/2026).
Keluhan muncul karena sebagian wali murid merasa tidak memiliki ruang untuk menolak.
Mereka mengaku sudah terlanjur menandatangani persetujuan sehingga terjebak dalam situasi sulit.
Tidak sedikit yang akhirnya memilih mencari pinjaman demi memenuhi biaya keberangkatan.
“Kami sebenarnya keberatan, tapi sudah tanda tangan, akhirnya terpaksa cari pinjaman,” ungkap wali murid lainnya.
Masalah semakin kompleks ketika muncul kendala pengembalian dana bagi siswa yang batal berangkat.
Beberapa orang tua mengaku kesulitan menarik kembali uang yang telah disetorkan ke pihak sekolah.
Dana disebut telah dialokasikan ke travel, sehingga proses pengembalian tidak mudah.
“Katanya uang sudah masuk ke travel, jadi tidak bisa ditarik penuh,” keluh seorang wali murid.
Di sisi lain, beredar informasi adanya syarat pelunasan kewajiban sekolah sebelum siswa bisa ikut study tour.
Kondisi ini memicu dugaan adanya tekanan tidak langsung terhadap siswa dan orang tua.
Bagi keluarga kurang mampu, situasi tersebut dinilai semakin memberatkan dan tidak sensitif secara sosial.
“Kalau belum lunas, anak jadi tidak enak, seperti ada tekanan,” kata salah satu orang tua.
Sorotan lain mengarah pada dugaan penggunaan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk biaya study tour.
Padahal, bantuan tersebut seharusnya difokuskan untuk menunjang kebutuhan pendidikan dasar siswa.
Jika benar digunakan untuk kegiatan non-esensial, hal ini dinilai menyimpang dari tujuan program.
“Anak saya dapat PIP, jadi itu yang diandalkan untuk biaya,” ujar wali murid.
Pihak sekolah melalui humas Farid menyatakan bahwa kegiatan study tour tidak dilarang oleh Pemprov Jawa Timur.
Namun, ia menegaskan bahwa pelaksanaannya tidak boleh bersifat memaksa terhadap siswa.
Pernyataan ini justru memicu pertanyaan karena kondisi di lapangan dinilai berbeda.
“Tidak ada larangan, yang penting tidak memaksa,” jelas Farid saat dikonfirmasi.
Lebih jauh, pernyataan terkait biaya pendidikan juga menuai perhatian publik.
Sekolah menyebut bahwa pemerintah tidak sepenuhnya menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa.
Hal ini dianggap bertolak belakang dengan semangat program BPOPP yang meringankan beban biaya sekolah.
“Pendidikan tidak sepenuhnya gratis,” ungkap perwakilan sekolah.
Meski polemik terus bergulir dan kritik semakin tajam, kegiatan study tour tetap dijalankan sesuai rencana.
Situasi ini memunculkan kesan bahwa aspirasi wali murid belum sepenuhnya diakomodasi.
Publik pun mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tersebut.
“Kami berharap ada solusi, bukan sekadar jalan terus,” tegas salah satu orang tua.
Masyarakat kini mendorong Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Bojonegoro untuk turun tangan.
Pengawasan dinilai penting guna memastikan tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan sekolah.
Transparansi pengelolaan dana, termasuk penggunaan bantuan seperti PIP, menjadi tuntutan utama.
“Harus ada audit dan keterbukaan, supaya tidak merugikan siswa,” kata warga.
Hingga berita ini ditulis, pihak Cabang Dinas Pendidikan melalui Kasi SMA, Devi Yuniar, belum memberikan keterangan resmi.
Ketiadaan respons ini semakin memperkuat tanda tanya publik terhadap polemik yang berkembang.
Masyarakat berharap ada penjelasan yang tegas dan berpihak pada kepentingan siswa.
“Jangan sampai masalah ini dibiarkan tanpa kejelasan,” tutup salah satu wali murid. (*)


















Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,