LAMONGAN – Suasana di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Ngimbang mendadak jadi sorotan setelah muncul polemik mutasi tenaga kesehatan.
Keputusan ini tertuang dalam SK Bupati Lamongan Nomor: 800.1.3.1/743/413.204/KEP/2026 tertanggal 12 Maret 2026.
Nama Heny Amalia, perawat penyelia berpengalaman, ikut terdampak dalam kebijakan tersebut.
Ia dipindahkan ke RSUD Ki Ageng Brondong setelah 15 tahun bertugas di ruang operasi.
Mutasi ini tak sekadar perpindahan biasa, melainkan memicu perdebatan soal sistem manajemen ASN di lingkungan Pemkab Lamongan.
Isu yang mencuat bukan hanya soal kebutuhan organisasi, tetapi juga dugaan faktor kedekatan dalam pengambilan keputusan.
Di internal, bahkan muncul istilah yang dinilai merendahkan seperti “kroco” terhadap bawahan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang penerapan prinsip profesionalisme.
Di sisi lain, kepergian Heny memunculkan kekhawatiran di ruang bedah RSUD Ngimbang.
Pasalnya, ia termasuk tenaga dengan kompetensi khusus yang tidak mudah tergantikan.
Kepala IBS RSUD Ngimbang, dr. Khoirul Anam, Sp.B, mengakui adanya potensi gangguan layanan.
“Terdapat risiko terganggunya kontinuitas pelayanan tindakan operasi apabila belum tersedia tenaga pengganti dengan kompetensi serupa,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Heny sendiri mengaku kecewa dengan cara komunikasi yang ia terima dari atasannya.
Saat mencoba meminta penjelasan, ia justru mendapat respons yang dianggap tidak profesional.
Ia menirukan ucapan Kabid Pelayanan yang menyebut dirinya sebagai bagian dari “kroco”.
“Sampean itu termasuk kroco-kroco, jadi tidak perlu diberi tahu atau dikonfirmasi,” ungkap Heny.
Tak hanya itu, Heny juga mengungkap adanya pernyataan terkait pentingnya koneksi dalam karier ASN.
Menurutnya, ia mendengar langsung bahwa mutasi tidak lepas dari faktor relasi.
“Memang harus seperti itu, harus punya link,” katanya menirukan pernyataan tersebut.
Pernyataan ini kemudian memicu kritik terkait potensi runtuhnya sistem meritokrasi.
Jika benar faktor non-kompetensi lebih dominan, maka hal ini dinilai berbahaya bagi pelayanan publik.
Tenaga kesehatan seharusnya ditempatkan berdasarkan keahlian, bukan kedekatan personal.
Apalagi posisi di ruang operasi membutuhkan keterampilan yang spesifik dan berisiko tinggi.
Kondisi ini membuat sebagian pihak menilai sistem sedang berada dalam “lampu kuning”.
Menanggapi polemik tersebut, pihak manajemen RSUD Ngimbang memberikan klarifikasi.
Direktur RSUD Ngimbang, dr. Hilda, menyatakan mutasi dilakukan sesuai regulasi yang berlaku.
Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut bertujuan pemerataan layanan dan pengembangan karier.
“Setiap penempatan didasarkan pada kualifikasi dan kebutuhan organisasi,” jelasnya.
Terkait isu keselamatan pasien, manajemen memastikan standar tetap dijaga ketat.
Prosedur operasional disebut mengacu pada regulasi Kementerian Kesehatan.
Pengawasan dan sertifikasi tenaga medis menjadi bagian dari sistem yang berjalan.
Dengan demikian, pelayanan operasi diklaim tetap aman dan terkendali.
Soal penggunaan istilah “kroco”, dr. Hilda menyampaikan penyesalan.
Ia menilai ucapan tersebut tidak mencerminkan etika profesional di lingkungan kesehatan.
“Hal itu tidak sesuai dengan etika kedokteran dan akan menjadi bahan evaluasi,” ujarnya.
Manajemen juga berjanji menjaga suasana kerja yang saling menghargai.
Sementara itu, Kabid Pelayanan RSUD Ngimbang, dr. Koerniadi, memilih tidak banyak berkomentar.
Saat dikonfirmasi, ia hanya memberikan jawaban singkat melalui pesan WhatsApp.
“Monggo ke Direktur mawon, nggih,” tulisnya.
Ia menyerahkan sepenuhnya penjelasan kepada pimpinan rumah sakit.
Kasus ini menjadi cerminan tantangan dalam tata kelola birokrasi daerah.
Ketika keputusan kepegawaian memicu polemik, transparansi menjadi hal yang sangat penting.
Tenaga profesional seperti perawat bedah memegang peran vital dalam keselamatan pasien.
Karena itu, setiap kebijakan diharapkan benar-benar berbasis kebutuhan dan kompetensi. (JN)


















Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,