Gresik — Ratusan warga Desa Tenggor, Kecamatan Balongpanggang, mendatangi Mapolres Gresik pada malam hari. Mereka memprotes dugaan tindakan tidak profesional oknum anggota kepolisian dalam proses penangkapan dua pemuda yang disebut berujung pada salah tangkap dan dugaan kekerasan fisik.
Kedatangan warga bukan tanpa alasan. Dua pemuda asal Desa Tenggor tersebut mengaku diberhentikan sejumlah polisi berpakaian preman di kawasan Jembatan Tenggor ketika hendak membeli makanan ke Pasar Balongpanggang. Keduanya kemudian diborgol dan dibawa untuk menjalani pemeriksaan.
Persoalan menjadi serius karena korban mengaku mengalami pemukulan selama proses penangkapan. Mereka menyebut terdapat bekas kekerasan pada tubuh hingga mengeluarkan darah. Tak hanya itu, korban juga mengaku mendapat tekanan dan ancaman agar mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan.
Ironisnya, setelah dilakukan pengecekan kepada perangkat Desa Tenggor, identitas keduanya disebut tidak sesuai dengan pelaku yang dicari. Keduanya akhirnya dilepaskan.
Namun, pelepasan tersebut tidak serta-merta menghapus persoalan. Bekas pukulan dan borgol yang disebut dialami korban justru menjadi pertanyaan besar: bagaimana prosedur penangkapan dijalankan dan atas dasar apa tindakan kekerasan tersebut dilakukan?
Kekecewaan warga pun meledak. Mereka menilai apabila benar terjadi salah tangkap disertai kekerasan, persoalannya tidak lagi sekadar kesalahan prosedur, tetapi menyangkut profesionalitas, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap hak warga negara.
Karena situasi semakin memanas, warga bersama perangkat desa akhirnya mendatangi Mapolres Gresik dan menyampaikan laporan serta pengaduan kepada unsur Propam.
Dalam pertemuan tersebut, warga secara tegas meminta empat oknum polisi yang diduga terlibat diperiksa secara menyeluruh dan transparan. Pemeriksaan terhadap para oknum tersebut disebut berlangsung hingga dini hari.
Warga tidak sekadar meminta penjelasan. Mereka menuntut adanya kepastian: siapa yang bertanggung jawab, apakah prosedur penangkapan telah dijalankan sesuai ketentuan, serta apakah dugaan kekerasan benar-benar terjadi.
Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi jajaran Polres Gresik. Jika dugaan tersebut terbukti, tindakan tegas terhadap personel yang melanggar bukan hanya menyangkut sanksi individu, tetapi juga menjadi bentuk pertanggungjawaban institusi dalam menjaga kepercayaan publik.
Sebaliknya, apabila tuduhan tersebut tidak terbukti, kepolisian juga berkewajiban memberikan penjelasan berdasarkan fakta dan hasil pemeriksaan agar tidak muncul persepsi liar di tengah masyarakat.
Jangan sampai label penegakan hukum justru berubah menjadi ketakutan bagi masyarakat yang seharusnya dilindungi.
Hingga berita ini diterbitkan, Polres Gresik belum memberikan keterangan resmi mengenai kronologi versi kepolisian maupun hasil pemeriksaan terhadap empat personel yang dilaporkan warga.
Masyarakat kini menunggu satu hal: transparansi dan kepastian hukum.
(Rois Gresik)


















Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,