BOJONEGOROtimes.Id – Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono, mengapresiasi keberhasilan masyarakat Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, dalam mengembangkan Green House Anggur yang kini menjadi destinasi wisata edukasi sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi.
Program tersebut lahir dari kolaborasi pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) melalui pembinaan Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH).
Keberhasilan tersebut menjadi contoh bagaimana pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Lahan pekarangan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal kini berubah menjadi kawasan produktif yang menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai budidaya anggur.
Ketua BSMKH, Mas Ujang, menjelaskan bahwa konsep yang diterapkan tidak hanya berfokus pada hasil panen.
Menurutnya, seluruh kegiatan dikembangkan dengan prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik, sumber energi alternatif, hingga media pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
”Kami ingin masyarakat merasakan manfaat pengelolaan sampah secara langsung. Sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi bisa diolah menjadi pupuk, energi, bahkan membantu pembayaran PBB sekaligus mendukung budidaya anggur,” ujar Mas Ujang.
Green House Anggur tersebut menghadirkan beragam varietas unggulan dari berbagai negara seperti Everest asal Amerika Serikat, Ilaria dari Italia, Pottergistrum dari Austria, Malika, Cherny Crystal, Gosvi dari Rusia, hingga Basanti dari India.
Keberagaman jenis anggur tersebut menjadi daya tarik wisata sekaligus media pembelajaran bagi masyarakat dan petani.
Saat menghadiri panen raya dan petik perdana anggur pada Rabu (1/7/2026), Cantika Wahono menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi yang telah dibangun berbagai pihak.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah desa, kecamatan, dan sektor swasta mampu menghadirkan dampak positif bagi masyarakat hingga mendapat perhatian di tingkat internasional.
”Program ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang baik mampu menghasilkan manfaat besar. Pendampingan dan pelatihan yang diberikan menjadikan BSMKH berkembang dan dikenal lebih luas. Semoga keberhasilan ini terus dipertahankan,” kata Cantika Wahono.
Ia berharap keberhasilan Desa Sendangharjo tidak berhenti di satu wilayah saja.
Cantika mengajak desa-desa lain di Kabupaten Bojonegoro menjadikan program tersebut sebagai referensi dalam mengembangkan pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan pekarangan yang bernilai ekonomi.
”Harapan kami, semakin banyak desa yang mengadopsi praktik baik ini sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Selain sektor lingkungan dan pertanian, penguatan ekonomi masyarakat juga terlihat melalui berkembangnya usaha kreatif lokal.
Salah satunya Afida Batik yang dirintis Nur Afida sejak mengikuti program pemberdayaan perempuan yang digagas ExxonMobil pada 2015 dan kini berkembang menjadi usaha batik khas Bojonegoro.
Berbekal pelatihan yang diterima, Nur Afida mampu menghadirkan berbagai motif yang mengangkat identitas daerah seperti Kayangan Api, daun jati, serta potensi alam Bojonegoro lainnya.
Produk batik tersebut kini dikenal masyarakat dan mampu menghasilkan omzet sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta setiap bulan, terutama pada musim penerimaan peserta didik baru.
”Awalnya ini merupakan program pemberdayaan perempuan dari ExxonMobil. Alhamdulillah hingga sekarang usaha ini terus berkembang karena kami terus belajar, memperluas jaringan, dan meningkatkan pemasaran,” ungkap Nur Afida.
Keberhasilan Green House Anggur dan Afida Batik menjadi bukti bahwa program pemberdayaan yang dijalankan secara konsisten mampu melahirkan masyarakat yang lebih mandiri, kreatif, dan berdaya saing.
Sinergi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menjadi modal penting dalam memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan di Kabupaten Bojonegoro. (Prokopim)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,