Skandal Infrastruktur Lamongan, Gelap Melanda di Jalur Sukodadi–Pucuk

LAMONGAN – Di atas kertas, pembangunan di Lamongan disebut “merata”. Di lapangan, rakyat hanya melihat gelap dan lubang. Di ruas jalan poros Sukodadi–Pucuk, jargon pembangunan itu berubah menjadi lelucon pahit.

‎Selasa (21/10/2025), jalan yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi dan penghubung vital antarwilayah, justru menjadi lorong maut.

‎Setiap malam, wilayah ini tenggelam dalam kegelapan total. Penerangan Jalan Umum (PJU) mati berbulan-bulan, tanpa upaya perbaikan sedikit pun dari pihak terkait.

‎Sementara itu, trotoar yang rusak, bekas kecelakaan, dan puing-puing aspal terkelupas dibiarkan seolah tak berarti apa-apa. Tak ada pita kuning, tak ada papan peringatan, tak ada tanda kehadiran negara.

‎Kegelapan itu bukan hanya soal lampu yang mati, tapi juga simbol dari matinya nurani pejabat publik.

‎Masyarakat sudah berulang kali melapor. Mereka menulis, menelpon, bahkan meminta audiensi. Tapi yang datang bukan solusi, melainkan diam dan pembiaran.

‎Selama itu pula, korban terus berjatuhan. Kecelakaan, luka, bahkan kematian, menjadi berita rutin yang tak lagi mengguncang siapa pun di kantor Dinas Perhubungan.

‎Terbaru, mayat ditemukan di timur SPBU Talun. Sebuah tragedi yang seharusnya menjadi tamparan keras bagi para pengambil kebijakan.

‎Tapi entah mengapa, telinga para pejabat tampaknya terlalu tebal untuk mendengar jeritan rakyatnya sendiri.

‎Pertanyaan paling mendasar kini menggantung di udara:

‎Di mana Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan?

‎Apa kabar pengawasan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur?

‎Dan mengapa Kementerian Perhubungan RI seolah menutup mata terhadap penderitaan ini?

‎Yang terjadi di Sukodadi–Pucuk bukan sekadar keteledoran birokrasi. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah publik.

‎Negara seolah lupa bahwa keselamatan rakyat adalah kewajiban paling dasar dari sebuah pemerintahan.

‎Dalam sistem yang penuh laporan fiktif, proyek seremonial, dan pengawasan semu, rakyat dibiarkan berjalan sendirian di jalan gelap yang mereka biayai dari pajak sendiri.

‎Setiap malam, mereka melangkah di bawah langit hitam tanpa cahaya, sambil menahan waswas apakah bisa pulang hidup-hidup.

‎Ketakutan itu bukan hanya karena gelapnya jalan, tapi karena gelapnya hati mereka yang seharusnya menjaga.

‎“Kalau pemerintah terus diam, kami akan pasang lampu sendiri,” kata seorang warga dengan nada getir.

‎Kalimat sederhana, tapi sarat makna: rakyat mulai kehilangan kepercayaan pada pemerintah.

‎Sudah waktunya Presiden dan Menteri Perhubungan turun langsung.

‎Jika pejabat di daerah hanya bisa membuat laporan tanpa tindakan, pecat saja.

‎Jabatan publik bukan tempat tidur empuk bagi mereka yang melupakan tanggung jawabnya.

‎Jalan Sukodadi–Pucuk kini bukan sekadar aspal rusak dan tiang mati. Ia adalah cermin kebobrokan sistem, saksi bisu tentang bagaimana negara bisa begitu jauh meninggalkan rakyatnya.

‎Dan bila pemerintah terus berpura-pura tidak tahu, jangan salahkan rakyat jika suatu hari mereka menyalakan terang sendiri, bukan hanya di jalan, tapi juga di kesadaran. (ded)