BOJONEGOROtimes.Id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus memperkuat sektor pertanian untuk mempertahankan posisi sebagai daerah penghasil beras terbesar di Jawa Timur.
Strategi tersebut dibahas dalam dialog interaktif KOPI DARAD (Kongkow Inspiratif Dari Radio) di kawasan Car Free Day (CFD) Alun-Alun Bojonegoro, Minggu (8/11/2026).
Kegiatan hasil kolaborasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Forum Radio Bojonegoro (FRB) itu menghadirkan Wakil Bupati Nurul Azizah dan Kepala DKPP Zaenal Fanani.
Dialog disiarkan langsung melalui TikTok dan radio anggota FRB, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
Dalam dialog bertema Bojonegoro Produksi Beras Terbesar Se-Jawa Timur tersebut, Nurul Azizah menegaskan bahwa peningkatan produksi harus sejalan dengan kesejahteraan petani.
Pemkab juga menggandeng Perhutani untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan tetap menjaga tanaman utama.
“Target utama di bidang pertanian bukan sekadar mengejar prestasi pencapaian angka produksi, melainkan menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi para petani,” tegas Nurul Azizah.
Sementara itu, Kepala DKPP Zaenal Fanani menyampaikan sejumlah strategi peningkatan produktivitas, mulai dari pengembangan varietas padi Gamagora hingga pemanfaatan bakteri Bacillus.
Petani juga mendapat pelatihan pengembangbiakan bakteri tersebut sebagai bagian dari penguatan pertanian berbasis agen hayati.
DKPP turut mendorong modernisasi pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Kelompok tani dapat mengajukan pinjam pakai peralatan melalui Gapoktan secara gratis, termasuk mendapatkan dukungan sarana dan operator.
“Kami terus mengembangkan varietas padi Gamagora yang nantinya akan dibagikan kepada petani. Selain itu, DKPP juga memberikan bakteri Bacillus sekaligus pelatihan pengembangbiakannya bagi kelompok tani,” ujar Zaenal Fanani.
Persoalan irigasi juga menjadi perhatian dalam dialog tersebut.
Menanggapi usulan warga terkait penambahan sumur pengairan, Zaenal menyebut DKPP telah berkoordinasi dengan Dinas PU SDA untuk merevitalisasi embung dan meningkatkan ketersediaan sarana pengairan.
Ia optimistis produktivitas pertanian Bojonegoro akan terus meningkat melalui kolaborasi lintas sektor, penggunaan teknologi modern, serta pemanfaatan pupuk organik dan agen hayati.
Dengan langkah tersebut, capaian produksi diharapkan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani. (*)












