BOJONEGOROtimes.Id – Bojonegoro tak sekadar datang membawa nama daerah ke Surabaya.
Lewat East Java Investment Forum (EJIF) 2026, Pemkab Bojonegoro mulai membuka jalan lebih lebar bagi investor dengan menawarkan proyek industri pakan ternak di Kecamatan Kedungadem.
Peluang investasi tersebut dibawa dalam EJIF 2026 yang berlangsung di Grand City Exhibition Hall Surabaya, 30 September-4 Oktober 2026.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono hadir bersama Ketua Dekranasda Bojonegoro Cantika Wahono.
Proyek Poultry Feed Industry Development Project menjadi salah satu andalan Bojonegoro di sektor agroindustri.
Proyek ini ditawarkan kepada calon investor di tengah forum yang mempertemukan pemerintah daerah, pemilik proyek, pelaku usaha, perbankan dan investor.
EJIF 2026 mengusung tema “EmpoWering East Java as Indonesia’s New Growth Engine through Strategic and Sustainable Investment”.
Sebanyak 28 proyek investasi dengan nilai sekitar Rp73,77 triliun dipetakan untuk ditawarkan kepada investor.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan, investasi membutuhkan dukungan infrastruktur, konektivitas dan kemudahan berusaha.
Infrastruktur transportasi, energi hingga kawasan industri dinilai menjadi kunci membangun ekosistem investasi yang kompetitif.
Bagi Bojonegoro, forum tersebut menjadi momentum memperkenalkan potensi daerah secara langsung kepada calon investor.
Komunikasi bisnis juga dibuka melalui project showcase, business matching, one-on-one meeting hingga pertemuan antarpelaku usaha.
Tak berhenti di investasi, Bojonegoro sekaligus menggeber promosi produk lokal melalui Jatim Fest 2026.
Dekranasda membawa beragam produk unggulan seperti wastra, batik, rajut, aksesori dan kerajinan berbahan kayu.
Ketua Dekranasda Bojonegoro Cantika Wahono menyebut kehadiran stan Bojonegoro menjadi kesempatan memperluas jangkauan promosi produk kreatif masyarakat.
“Hari ini kami berkesempatan ada di Grand City Mall Surabaya dalam rangka Jatim Fest 2026. Stan Dekranasda Kabupaten Bojonegoro ada di Jatim Fest 2026,” ujar Cantika.
Dua agenda tersebut menjadi strategi Bojonegoro membuka dua pintu sekaligus: menarik investasi dan memperluas pasar produk lokal.
Potensi agroindustri dan ekonomi kreatif didorong agar tak berhenti sebagai potensi, tetapi menghasilkan aktivitas ekonomi dan nilai tambah bagi masyarakat.
Lewat EJIF dan Jatim Fest 2026, Bojonegoro ingin menunjukkan bahwa potensi daerah bukan sekadar untuk dipamerkan.
Dari proyek industri di Kedungadem hingga produk kreatif masyarakat, semuanya diarahkan menjadi penggerak ekonomi daerah. (Prokopim)












Komentar