BOJONEGOROtimes.Id — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mendorong kemandirian pangan melalui Gerakan ASN Peduli Pangan.
Gerakan ini melibatkan ASN, BUMD, dan masyarakat untuk menggunakan sekaligus mempromosikan produk pertanian lokal.
Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran beras lokal Rajekwesi produksi Perumda Pangan Mandiri Bojonegoro.
Program ini diharapkan memperkuat pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani daerah.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan, potensi pertanian yang besar harus diikuti kemampuan menyerap produk lokal.
Menurutnya, Bojonegoro merupakan salah satu daerah penghasil pertanian terbesar kedua di Jawa Timur.
Namun, kebutuhan pangan masyarakat masih banyak dipenuhi dari luar daerah.
“Bojonegoro merupakan salah satu daerah penghasil produk pertanian terbesar kedua di Jawa Timur. Tetapi kita masih membeli produk dari luar daerah atau luar kota,” ujarnya.
Setyo menegaskan, persoalan pangan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi.
Sistem penyimpanan, distribusi, logistik, hingga pemasaran juga harus dibangun secara terintegrasi.
ASN dan masyarakat dinilai memiliki peran penting sebagai konsumen sekaligus promotor produk pangan Bojonegoro.
“Marketingnya sudah banyak, instrumennya sudah tersedia. Tinggal bagaimana kita menjaga kualitas dan harga produk agar tetap kompetitif,” tegasnya.
Bupati mengajak ASN memulai gerakan tersebut dari langkah sederhana dengan mencoba dan membeli beras lokal.
Ia berharap setiap orang dapat membeli sedikitnya 15 kilogram beras dalam satu bulan sebagai bentuk dukungan.
Jika kualitas produk masih memiliki kekurangan, masyarakat diminta memberikan masukan untuk perbaikan.
“Jangan langsung menolak. Kita evaluasi dan perbaiki bersama,” katanya.
Direktur Perumda Pangan Mandiri Bojonegoro Khoirul Huda menjelaskan, BUMD tersebut dibentuk untuk mendukung stabilitas dan ketersediaan pangan.
Selain meningkatkan kesejahteraan petani, Perumda juga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian serta memberikan kontribusi terhadap PAD.
Pihaknya juga menyiapkan produk beras lokal dengan merek Rojo Nogo yang seluruh bahan bakunya berasal dari petani Bojonegoro.
“Produk ini direncanakan beredar secara luas pada tahun 2027 setelah seluruh proses perizinan selesai,” jelasnya.
Khoirul mengatakan, masukan dari ASN dan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan produk.
Perumda Pangan Mandiri juga akan fokus pada beras premium agar tidak berbenturan dengan usaha kecil dan UMKM.
Harga produk nantinya mengikuti ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
“Kami ingin memastikan beras yang diproduksi benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Gerakan ASN Peduli Pangan diharapkan membentuk rantai pangan daerah yang semakin kuat dan berkelanjutan.
Petani berperan sebagai produsen, Perumda sebagai pengelola, sedangkan ASN dan masyarakat menjadi konsumen sekaligus promotor.
Dengan pasar yang jelas, produk pertanian lokal diharapkan memiliki nilai tambah dan mampu bersaing.
“Tujuan kami adalah memakmurkan petani, menjaga ketersediaan pangan, dan mewujudkan Bojonegoro yang lebih sejahtera,” pungkasnya. (*)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,