BOJONEGOROtimes.Id – Lingkungan Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin yang teduh pernah menyimpan kisah seorang santri dengan reputasi kurang baik. Namanya Soden, santri yang lebih sering dikenal lewat kenakalan ketimbang prestasi.
Karena perilakunya yang kerap melanggar aturan, teman-temannya menjulukinya “Santri Beling”, pecahan kaca yang tajam dan sulit diatur.
Membolos pengajian, mencoret tembok asrama, hingga menghindari jamaah Subuh menjadi bagian dari keseharian Soden.
Namun di balik sikap mbeling itu, para guru sebenarnya melihat satu hal yang jarang dimiliki santri lain: kecerdasan dan daya pikir yang tajam.
Suatu hari, pengasuh pesantren, KH. Suyuti Ishaq, memanggil Soden secara khusus. Bukan dengan nada marah, melainkan dengan ketenangan khas seorang kyai.
“Kamu ini pintar, Den. Tapi mengapa justru sering membuat masalah? Santri sepertimu seharusnya bisa lebih dari ini,” tuturnya dengan bijak dan teduh.
Soden hanya tertunduk. Ia tak mampu menjelaskan kegelisahan yang selama ini ia rasakan.
Rutinitas pondok yang ia jalani terasa hampa. Ia haus tantangan, namun tidak tahu harus ke mana melangkah.
Alih-alih memberikan hukuman, KH. Suyuti Ishaq justru memberi kepercayaan.
“Mulai besok, bantu di Ndalem. Bantu dapur. Jalani dengan ikhlas,” katanya.
Keputusan itu mengejutkan Soden. Ia mengira akan dihukum berat, namun justru diberi amanah.
Sejak hari itu, Soden rutin membantu dapur Ndalem. Ia mengambil air dari sungai, memikulnya menuju dapur untuk mengisi gentong kebutuhan keluarga Ndalem dan pondok putri.
Setiap tiga hari sekali, ia mampu memikul air hingga sekitar sepuluh pikul, sebuah pekerjaan fisik yang melelahkan, namun perlahan melunakkan hatinya.
Di sela aktivitas itu, Soden menemukan sesuatu yang mengubah hidupnya.
Di sudut dapur, terselip sebuah kitab tua berdebu berjudul “Kitab Ngaji Roso”. Isinya bukan sekadar pelajaran teks, melainkan uraian tentang makna ilmu, akhlak, pengendalian diri, dan perjalanan batin seorang penuntut ilmu.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Soden mulai membacanya diam-diam.
Ironisnya, dapur yang dulu menjadi tempat persembunyiannya saat malas ngaji, justru menjadi ruang perenungan.
Saat santri lain bergegas ke masjid Subuh, Soden pernah memilih tidur atau bersembunyi di sekitar WC pondok yang kala itu masih sangat sederhana, berpijakan kayu di atas aliran air. Namun dari sanalah, kesadarannya tumbuh perlahan.
Ia mulai memahami bahwa ilmu tidak hanya diperoleh dari majelis pengajian, tetapi juga dari hidmah, ketaatan kepada kiai, kesabaran, dan keikhlasan menjalani tugas kecil.
Hari demi hari, perubahan Soden mulai terasa. Ia tak lagi dikenal sebagai pembuat ulah.
Ia justru sering terlihat membantu Ndalem, menolong santri lain, dan lebih tenang dalam bersikap.
“Kamu kenapa sekarang beda, Den?”
“Santri Beling kok jadi pendiam?” sapa teman santri.
Dengan senyum sederhana, Soden menjawab “Aku menemukan tantangan yang lebih berat dari sekadar melanggar aturan, mengalahkan diriku sendiri”.
KH. Suyuti Ishaq yang memperhatikan dari kejauhan menyimpan kebahagiaan tersendiri. Dalam satu kesempatan, sang kyai berujar lirih “Beling itu pecahan kaca. Jika ditempa, ia bisa menjadi permata”.
Julukan “Santri Beling” pun perlahan menghilang. Di pesantren itu, Soden kini lebih dikenal sebagai santri cendekia, pribadi yang tumbuh dari kenakalan menuju keteguhan jiwa.
Kisah Soden menjadi bukti bahwa tidak ada santri yang gagal, yang ada hanyalah santri yang belum menemukan jalan pulangnya. (dpw)
Dimas P Wardhana
Jakarta, 13 Desember 2025
Oleh: Prof. Dr. H. Fernadya Sima Antasari, Lc., MA., MBA.

















Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,