BOJONEGOROtimes.Id – Era Parcok atau Partai Coklat harus diakhiri. Komaruddin Hidayat menilai, dugaan keterlibatan oknum polisi dalam politik praktis kembali menjadi sorotan setelah mencuatnya skandal penyadapan yang melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri.
Dalam siaran pers tertanggal 6 November 2026 berjudul Mengakhiri Era Parcok, Komaruddin menyebut skandal tersebut memperkuat dugaan adanya jaringan yang memiliki pengaruh dan dukungan finansial.
Istilah Parcok sendiri merupakan sindiran terhadap polisi yang diduga menggunakan pengaruhnya untuk mengarahkan dukungan politik kepada calon tertentu.
Menurut Komaruddin, terbongkarnya persoalan tersebut semestinya menjadi momentum bagi Polri untuk membersihkan institusi dan mengembalikan fungsi utamanya sebagai pelindung serta pengayom masyarakat.
“Polri tidak boleh terlibat dalam permainan politik praktis. Polri mesti netral, berdiri di atas semua golongan,” tulis Komaruddin dalam siaran persnya.
Ia juga menegaskan bahwa penyadapan hanya dapat dibenarkan untuk kepentingan keamanan negara, dengan dasar data dan alasan yang rasional.
Bukan untuk kepentingan kelompok politik, apalagi jika digunakan untuk mengganggu jalannya pemerintahan.
Komaruddin turut mempertanyakan materi penyadapan, pihak yang memerintahkan, serta tujuan di balik tindakan tersebut.
Meski demikian, ia menilai tidak semua informasi hasil penyadapan harus dibuka kepada publik.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa masyarakat membutuhkan pemerintahan yang berintegritas, profesional, dan benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat.
Menurutnya, masyarakat sudah lelah dengan berbagai persoalan, mulai dari korupsi, kerusakan hutan, kenaikan harga kebutuhan pokok hingga terbatasnya lapangan pekerjaan.
Komaruddin juga menyoroti masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya menjadi kesempatan penting untuk meninggalkan warisan pemerintahan yang baik dan produktif.
“Masa kepresidenan Prabowo tidak lama. Legacy apa yang hendak ditinggalkan dengan kesempatan yang sangat pendek itu dalam usianya yang tidak lagi muda?” tulisnya.
Ia berharap terbongkarnya skandal tersebut menjadi penanda berakhirnya era Parcok.
Namun, Komaruddin juga mempertanyakan bagaimana respons pihak-pihak yang selama ini diduga berada di balik praktik tersebut terhadap langkah tegas Presiden. (*)












