BOJONEGOROtimes.Id – Perkembangan teknologi pangan dunia kembali menjadi sorotan setelah industri daging cetak 3D (3D-Printed Meat) semakin berkembang.
Teknologi ini memungkinkan produk menyerupai daging, mulai dari steak hingga ayam, dibuat menggunakan mesin khusus dengan menyusun bahan biologis atau nabati secara berlapis.
Berbeda dengan daging konvensional, teknologi tersebut berupaya meniru tekstur, serat, dan distribusi lemak daging asli.
Namun, perlu dipahami bahwa daging cetak 3D tidak selalu berasal dari sel hewan.
Ada pula produk yang menggunakan bahan nabati, sehingga berbeda dengan cultivated meat atau daging hasil kultur sel.
Sejumlah perusahaan seperti Redefine Meat dan Steakholder Foods menjadi pemain dalam industri ini.
Steakholder Foods mengembangkan teknologi pencetakan makanan tiga dimensi melalui merek Perfecta.
Perkembangan tersebut memunculkan perhatian terhadap masa depan industri pangan dan persaingan dengan sektor peternakan tradisional.
Nama sejumlah investor besar, termasuk Bill Gates dan Jeff Bezos, juga kerap dikaitkan dengan perkembangan industri protein alternatif.
Investasi tersebut menunjukkan besarnya potensi bisnis pangan masa depan, meskipun keterlibatan masing-masing investor pada perusahaan tertentu perlu dilihat berdasarkan data investasi yang terverifikasi.
Di tengah perkembangan tersebut, muncul kekhawatiran mengenai dominasi perusahaan besar terhadap rantai pasok pangan.
Sebagian kalangan menilai ketergantungan terhadap teknologi dan korporasi berpotensi menekan petani serta peternak kecil apabila tidak diimbangi perlindungan terhadap produksi pangan lokal.
Jika rantai pangan semakin bergantung pada perusahaan besar dan teknologi laboratorium, keberlangsungan petani serta peternak lokal perlu mendapatkan perhatian serius.
Selain persoalan ekonomi, keamanan pangan juga menjadi perhatian.
Produk berbasis teknologi baru harus melalui pengujian komposisi, keamanan bahan, nilai gizi, serta evaluasi dampak konsumsi.
Penggunaan methylcellulose dalam sejumlah produk pangan, misalnya, tidak otomatis menunjukkan bahwa produk tersebut berbahaya karena bahan ini juga digunakan sebagai pengental dan penstabil makanan.
Kekhawatiran mengenai efek konsumsi jangka panjang juga perlu dijawab melalui penelitian ilmiah.
Hingga kini, klaim bahwa daging cetak 3D secara otomatis menyebabkan kanker maupun menjadi bagian dari agenda depopulasi tidak dapat dianggap sebagai fakta tanpa bukti penelitian yang kuat.
Di Indonesia, isu masuknya produk daging hasil teknologi laboratorium juga perlu disikapi secara cermat.
Setiap klaim mengenai izin edar dari Kementerian Pertanian maupun BPOM harus dipastikan melalui dokumen dan pengumuman resmi kedua lembaga tersebut.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi pangan tidak seharusnya menghilangkan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang transparan.
Pemerintah perlu memastikan keamanan produk, kejelasan label, serta perlindungan terhadap petani dan peternak lokal.
Masyarakat pun perlu semakin kritis dalam menyikapi perkembangan pangan modern.
Inovasi boleh berkembang, tetapi keamanan konsumsi, kedaulatan pangan, dan keberlangsungan sektor pertanian tetap harus menjadi prioritas. (*)






