BOJONEGOROtimes.Id – Atraksi wisata budaya jaranan menjadi magnet bagi ratusan warga yang memadati kawasan Galeri Bengawan, Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro ini menjadi upaya mengembangkan wisata berbasis potensi lokal sekaligus memberdayakan masyarakat.
Sejak pagi, kawasan tepi Bengawan Solo telah dipenuhi masyarakat, pelaku seni dan tamu undangan.
Acara diawali senam sehat bersama Tim Senam Hasanudin, kemudian dilanjutkan seremoni pembukaan dan doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas keberadaan Bengawan Solo bagi kehidupan masyarakat.
Kepala Disbudpar Bojonegoro, Elzadeba Agustina, mengatakan Galeri Bengawan dikembangkan bukan sekadar sebagai tempat rekreasi, tetapi juga ruang edukasi dan pelestarian budaya.
Konsep living museum diharapkan mampu mengenalkan sejarah, ekologi, dan budaya Bengawan kepada para pengunjung.
“Galeri Bengawan ini kami bangun dengan konsep living museum. Kami ingin wisatawan tidak hanya datang untuk selfie di Bendung Gerak, tetapi juga memahami sejarah, ekologi, dan budaya Bengawan. Hari ini kita buktikan, dengan senam sehat kita bugar, dengan jaranan kita jaga budaya,” ungkap Elzadeba.
Menurutnya, atraksi wisata budaya serupa akan digelar rutin setiap bulan secara bergilir di desa-desa wisata Bojonegoro.
Program tersebut diharapkan dapat menggerakkan ekonomi kreatif, memperkuat UMKM, serta membuka ruang lebih luas bagi seniman tradisional untuk terus berkarya.
Dukungan juga datang dari DPRD Bojonegoro.
Perwakilan Komisi B, Sudiono, menilai kawasan Galeri Bengawan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan dengan mengangkat kekayaan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat sungai.
“Kami dari Komisi B melihat potensi luar biasa di sini. Ada Bendung Gerak, ada sejarah perahu kuno yang ditemukan di Padang, serta tradisi pertanian maritim sungai. Ini harus kita kemas menjadi paket wisata yang menarik,” ujarnya.
Usai pembukaan, masyarakat disuguhi penampilan Jaranan Turonggo Seto Mudo dari Desa Padang.
Iringan gamelan, kendang, dan terompet mengiringi gerakan dinamis para penari yang sukses menyedot perhatian pengunjung.
Kemeriahan juga terasa di stan UMKM binaan Desa Padang.
Beragam produk lokal, mulai dari sego buwuhan, ledre, buah belimbing, miniatur perahu Bengawan hingga batik Jonegoroan, turut dipromosikan kepada masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari itu diharapkan menjadi langkah awal penguatan kalender wisata daerah.
Atraksi budaya di Galeri Bengawan juga diproyeksikan masuk dalam agenda pariwisata Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2027. (*)






