BOJONEGOROtimes.Id – Festival Sandur dan Pesta Rakyat dalam rangka Bojonegoro Bahagia Car Free Night memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) ke-349 di Alun-Alun Bojonegoro, Sabtu (24/10/2026).
Ribuan warga memadati lokasi untuk menikmati pertunjukan seni, kuliner gratis, serta berbagai kegiatan yang melibatkan 202 pelaku UMKM dan menyediakan sekitar 10.000 porsi makanan gratis.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menegaskan, Festival Sandur menjadi upaya melestarikan tradisi sekaligus menjaga identitas budaya daerah.
Ia mengajak masyarakat terus memperkuat persatuan dan bersinergi membangun Bojonegoro agar semakin maju dan membanggakan.
“Sandur merupakan salah satu tradisi kesenian yang menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk merawat tradisi, khususnya peninggalan para pendahulu yang menggambarkan identitas Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Lukiswati, menjelaskan bahwa Sandur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2018.
Pelestariannya perlu diperkuat melalui regenerasi seniman dan pengenalan kesenian tradisional kepada generasi muda.
Upaya tersebut dilanjutkan melalui workshop Sandur pada 4–5 Agustus 2026 yang melibatkan guru dan siswa dari 50 SMP/MTs.
Peserta mempelajari sejarah, filosofi, hingga praktik pementasan bersama para seniman, sehingga Sandur diharapkan berkembang di sekolah melalui kegiatan seni dan ekstrakurikuler.
Rangkaian acara juga mencakup lomba mewarnai bertema Sandur tingkat RA/TK yang diikuti 65 peserta, lomba tembang Sandur dengan 19 grup SMP/MTs, serta pameran karya siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK.
Pertunjukan Sandur digelar dalam tiga sesi, yakni pagi, sore, dan malam hari.
Bupati Setyo Wahono bersama Wakil Bupati Nurul Azizah, Sekda Edi Susanto, dan jajaran undangan turut menyerahkan hadiah secara simbolis kepada para pemenang lomba.
Bupati juga memberikan apresiasi kepada pelajar dan berharap generasi muda terus mengembangkan kreativitas, meningkatkan daya saing, serta berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan ini memperkuat promosi UMKM dan pelestarian budaya lokal.
Antusiasme masyarakat juga terlihat dari lomba esai sejarah desa yang diikuti lebih dari 200 peserta, menjadikan perayaan HJB ke-349 sebagai ruang kebersamaan sekaligus sarana mengenalkan warisan budaya Bojonegoro kepada generasi penerus. (*)






