BOJONEGOROtimes.Id – Upacara Hari Jadi ke-349 Kabupaten Bojonegoro (HJB) dan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur di Alun-Alun Bojonegoro, Selasa (20/10/2026), berlangsung dengan nuansa budaya yang kental.
Bupati Setyo Wahono, Wakil Bupati Nurul Azizah, serta jajaran Forkopimda tampil mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Sementara itu, para aparatur sipil negara (ASN) peserta upacara kompak mengenakan batik Obor Sewu.
Perpaduan busana tradisional tersebut menghadirkan pemandangan berwarna-warni sekaligus menjadi simbol persatuan dan keberagaman budaya di tengah peringatan hari jadi daerah.
Bupati Setyo Wahono mengenakan busana bernuansa cokelat dan merah keemasan, lengkap dengan penutup kepala Deta Ameh dan kain songket.
Sementara Cantika Wahono tampil dalam balutan busana adat Koto Gadang khas Sumatera Barat yang mencerminkan kewibawaan dan kesantunan.
Wakil Bupati Nurul Azizah bersama suaminya mengenakan busana adat Dayak dari Kalimantan, lengkap dengan rompi bermotif ukiran, hiasan manik-manik, dan penutup kepala seraung.
Hiasan bulu burung enggang yang dikenakan menjadi simbol kemuliaan serta tanggung jawab dalam tradisi masyarakat Dayak.
Keberagaman busana juga terlihat pada jajaran Forkopimda dan pejabat daerah.
Kepala Kejaksaan Negeri serta Ketua DPRD mengenakan busana adat Minangkabau, Dandim 0813 Bojonegoro memakai busana khas Nusa Tenggara Barat.
Sedangkan Sekda Bojonegoro tampil dengan busana adat Bugis-Makassar.
Kapolres Bojonegoro mengenakan pakaian adat Yogyakarta, Kabakorwil Bojonegoro memakai busana Jawa Timur berupa beludru hitam.
Ketua Pengadilan Agama tampil dengan busana adat Bengkulu bernuansa biru beludru berhias renda emas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Elzadeba Agustina, mengatakan penggunaan pakaian adat menjadi wujud penghormatan terhadap kekayaan budaya bangsa sekaligus memperkuat semangat kebinekaan.
“Penampilan jajaran pejabat publik dalam balutan busana adat ini menjadi simbol semangat persatuan, kebhinekaan, serta kebanggaan akan kekayaan budaya bangsa. Peserta upacara juga kompak mengenakan busana adat masyarakat Samin,” ujar Elzadeba.
Melalui peringatan HJB ke-349, keberagaman budaya diharapkan terus menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan, menjaga toleransi, dan mendorong pembangunan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan. (*)






