BOJONEGOROtimes.Id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mendorong pertanian ramah lingkungan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya usaha tani.
Upaya ini dibahas dalam workshop bertema Petani Hemat, Pangan Sehat, Generasi Hebat, Bumi Selamat pada rangkaian Gumregah Tani Bojonegoro Festival (Gutanbo Fest) 2026 di Pendopo Malowopati, Minggu (18/10/2026).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengatakan penggunaan pupuk organik dan agens hayati dalam budidaya tanaman sehat berpotensi meningkatkan hasil panen.
Metode tersebut juga dapat menekan biaya produksi sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
“Biaya produksi semakin menurun, produksinya meningkat. Ini menunjukkan bahwa kesejahteraan petani juga bisa meningkat melalui pertanian ramah lingkungan,” ujar Zaenal.
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat diterapkan pada tanaman padi maupun hortikultura, termasuk bawang merah tanpa pestisida kimia.
DKPP juga mendorong penggunaan varietas padi Gamagora dan bakteri Bacillus sebagai bagian dari inovasi budidaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Bojonegoro, Dilli Tri Wibowo, menekankan pentingnya menjaga kesuburan tanah dan ketersediaan air.
BRIDA turut mengembangkan kajian pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk bernilai guna serta pengolahan bahan organik menjadi kompos.
“Jangan hanya mengambil air dari bumi, tetapi kita juga perlu mengembalikannya melalui cara yang bijaksana. Begitu pula dengan limbah pertanian, sebisa mungkin tidak ada yang terbuang sia-sia dan dapat dimanfaatkan kembali,” pesan Dilli.
Workshop tersebut juga diisi praktik pembuatan Biosaka bersama penggagasnya, Muhammad Ansar.
Biosaka merupakan larutan dari remasan rumput dan daun segar dalam air tanpa fermentasi, yang diperkenalkan sebagai elisitor untuk memicu respons tanaman terhadap lingkungan, bukan sebagai pupuk atau pestisida. (*)






