BOJONEGOROtimes.Id – Pemkab Bojonegoro mendorong sektor perunggasan agar semakin berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Dorongan itu disampaikan Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah saat menghadiri Pembinaan Perunggasan Bojonegoro.
Kegiatan sekaligus dirangkai dengan pengukuhan pengurus asosiasi peternak ayam pedaging dan petelur.
Acara digelar di Ruang Angling Dharma, Gedung Pemkab Bojonegoro, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari peternak, pengurus asosiasi, perusahaan kemitraan, OPD terkait, dan jajaran Disnakkan.
Nurul mengatakan sektor peternakan memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
Selain memenuhi kebutuhan pangan, sektor ini juga berpotensi membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
“Ini menjadi peluang yang harus kita manfaatkan bersama. Bagaimana kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi dari produksi peternak lokal,” ujarnya.
Nurul menyebut kebutuhan telur Bojonegoro sebelumnya mencapai sekitar 8.000 ton per tahun, sedangkan produksi lokal baru sekitar 1.000 ton.
Namun, berdasarkan data Agustus, defisit kebutuhan telur telah menyusut menjadi sekitar 3.000 ton.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi peternak lokal untuk meningkatkan produksi.
“Kalau ada peluang, mari kita pergunakan bersama,” tegasnya.
Menurut Nurul, usaha peternakan juga memberikan efek ekonomi yang luas karena mampu menyerap tenaga kerja.
Bahkan, usaha ayam pedaging dalam satu musim produksi dapat menghasilkan perputaran uang sekitar Rp25 miliar.
Pemkab juga mendorong peternak menangkap peluang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peluang tersebut bisa ditempuh melalui kemitraan maupun usaha secara mandiri.
Sementara itu, Kepala Disnakkan Bojonegoro Catur Rahayu mengatakan pengukuhan asosiasi menjadi langkah memperkuat komunikasi antara peternak, pemerintah, dan perusahaan.
Asosiasi diharapkan menjadi wadah menyampaikan aspirasi, kebutuhan, serta berbagai persoalan peternak di lapangan.
“Forum ini diharapkan dapat mewujudkan sistem usaha ayam yang sehat, produktif, dan berkelanjutan,” terangnya.
Penguatan kelembagaan dinilai penting agar pengembangan perunggasan berjalan lebih terarah.
Catur menambahkan, sektor peternakan bukan hanya berperan menyediakan pangan hewani, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat.
Karena itu, komunikasi dan koordinasi antarpihak perlu terus diperkuat.
Pemkab berharap asosiasi mampu menjadi jembatan antara peternak, perusahaan, dan pemerintah.
Dengan begitu, usaha perunggasan Bojonegoro diharapkan semakin produktif dan berkelanjutan. (*)









Komentar