BOJONEGOROtimes.Id – Bagi sebagian orang, tembakau rajangan mungkin hanya terlihat sebagai lembaran daun yang telah dipotong-potong. Namun, bagi Zainul Arifin, atau yang akrab dipanggil P. Dimas, setiap rajangan memiliki karakter yang bisa dikenali.
Pengalaman membuatnya terbiasa menilai tembakau bukan hanya dari warna. Ia memegang dan mencium aroma rajangan untuk memperkirakan kualitasnya sebelum harga pembelian disepakati.
Cara tersebut menjadi bagian dari keseharian Zainul Arifin saat menjalankan aktivitas pembelian tembakau di Bojonegoro.
Aktivitas pembelian dilakukan di gudangnya yang berada di Dusun Bakalan, Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru. Setiap hari, tembakau rajangan dari sejumlah pedagang datang silih berganti.
Jumlah pembelian pun tidak sedikit. Dalam sehari, Zainul Arifin bisa membeli sekitar 15 hingga 20 ton tembakau.
Besarnya jumlah pembelian membuat ketelitian menjadi hal penting. Sebab, tidak semua tembakau memiliki kualitas yang sama. Kesalahan dalam menilai kualitas dapat berpengaruh terhadap harga pembelian maupun keuntungan ketika tembakau kembali dipasarkan.
Cukup Dipegang, Lalu Dicium
Bagi Zainul Arifin, tangan dan hidung menjadi bagian penting dalam mengenali kualitas tembakau.
Saat memegang tembakau, ia memperhatikan kondisi rajangan. Tekstur tembakau menjadi salah satu hal yang diperhatikan, bersamaan dengan kerapian dan kelurusan hasil rajangan.
Tidak berhenti di situ. Aroma menjadi petunjuk berikutnya. Zainul Arifin mencium aroma tembakau untuk mengenali karakter rajangan yang sedang dinilainya.
Menurutnya, tembakau yang berasal dari daun bagian atas umumnya memiliki kualitas lebih baik dibandingkan daun bagian bawah.
Tembakau yang dinilai baik, menurutnya, dapat dikenali dari pegangan yang baik, rajangan yang rapi dan lurus, serta aroma khas yang tidak terlalu pesing, langu maupun asam.
“Kalau sudah terbiasa, tembakau itu bisa dibaca dari pegangan, rajangan dan aromanya. Jadi tidak hanya melihat warna,” jelas P. Dimas.
Kemampuan tersebut tidak datang secara instan. Dibutuhkan pengalaman dan kebiasaan berhadapan dengan berbagai macam karakter tembakau.
Pegangan, rajangan, dan aroma menjadi bagian yang saling melengkapi sebelum sebuah tembakau dinilai kualitasnya.
Tak Mau Penjual Dirugikan
Di balik aktivitas perdagangan yang mencapai belasan ton setiap hari, Zainul Arifin mengaku tetap memegang prinsip agar transaksi berlangsung secara terbuka dan tidak merugikan salah satu pihak.
Kepada pedagang yang datang membawa tembakau, ia kerap mengingatkan agar proses pengecekan dan penimbangan dilakukan secara hati-hati.
“Hati-hati kalau ngecek tembakau. Jangan sampai merugikan penjual, terutama dalam cara menimbang. Jangan sampai penjual dirugikan,” ungkapnya.
Menurut Zainul Arifin, keuntungan dalam perdagangan memang penting. Namun, keuntungan tersebut tidak seharusnya diperoleh dengan mengorbankan kepercayaan pedagang.
Kepercayaan menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan antara pembeli dan penjual, terlebih perdagangan tembakau tidak hanya berlangsung dalam satu kali transaksi.
Harga Tinggi Bukan Jaminan Untung
Harga tembakau yang tinggi juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pembeli. Harga yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan apabila kualitas barang tidak sesuai dengan nilai pembelian.
Karena itu, sebelum menyepakati harga, Zainul Arifin melakukan berbagai pertimbangan. Mulai dari kualitas atau grade tembakau, modal yang harus dikeluarkan, perkiraan harga jual kembali, hingga potensi margin keuntungan.
Tembakau dengan kualitas rendah yang dibeli terlalu mahal dapat menjadi beban ketika hendak dipasarkan kembali.
“Perdagangan tembakau itu harus punya ilmu. Tidak hanya berani membeli, tetapi juga harus tahu barang yang dibeli,” ujarnya.
Bagi Zainul Arifin, pengalaman menjadi modal penting. Namun, pengalaman tersebut harus dibarengi dengan pengetahuan mengenai karakter tembakau dan perkembangan harga di pasaran.
Dekat dengan Warga
Sosok Zainul Arifin rupanya tidak hanya dikenal dari aktivitasnya sebagai pembeli tembakau.
Di lingkungan masyarakat, ia dikenal mudah bergaul dan tidak menjaga jarak dengan warga. Duduk santai, ngopi, dan berbincang bersama masyarakat menjadi hal yang biasa dilakukan.
Berbagai persoalan warga, termasuk cerita petani dan perkembangan perdagangan tembakau, kerap menjadi bahan obrolan.
Kedekatan tersebut membuat hubungan Zainul Arifin dengan masyarakat tidak sekadar terbangun melalui transaksi jual beli.
Baginya, berdagang bukan hanya soal berapa ton tembakau yang bisa dibeli atau berapa keuntungan yang bisa diperoleh.
Ada kepercayaan yang harus dijaga. Ada pedagang yang harus dihargai. Dan ada hubungan baik dengan masyarakat yang tidak boleh hilang hanya karena urusan transaksi.
Di tengah ketatnya persaingan perdagangan tembakau, prinsip itu yang terus dipegang Zainul Arifin: jeli menilai kualitas, cermat menentukan harga, dan tetap menjaga kepercayaan.
(Dimas jaya Group)














Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,