Dinsos Bojonegoro Tegaskan Stiker Miskin Bukan Stigma, Tapi Transparansi Data

BOJONEGOROtimes.Id – Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, menegaskan bahwa kebijakan penempelan stiker keluarga miskin merupakan langkah pembenahan data penerima bantuan sosial.

‎Tujuannya agar masyarakat dapat melihat langsung serta ikut mengawasi data penerima di lapangan.

‎“Kebijakan ini murni untuk transparansi dan evaluasi data,” tegas Agus.

‎Penjelasan tersebut disampaikan Agus saat menjadi narasumber podcast Dewan Jegrank, Jumat (9/1/2026) malam.

‎Ia menjelaskan bahwa pendataan saat ini mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang menggabungkan DTKS, Regsosek, dan P3KE.

‎“Dalam DTSEN ada 10 desil, dan desil 1 sampai 5 berpotensi menerima bansos,” ujarnya.

‎Menurut Agus, data kemiskinan bersifat dinamis dan diperbarui setiap tiga bulan sekali. Kebijakan stiker juga bukan hal baru, karena telah diterapkan di daerah lain seperti Surabaya dan Gunungkidul.

‎Langkah tersebut dinilai efektif untuk memastikan bantuan sosial lebih tepat sasaran.

‎“Tidak ada data yang benar-benar sempurna, tapi harus terus diperbaiki,” katanya.

‎Di Bojonegoro, pemasangan stiker berbasis Damisda hasil musyawarah desa yang kini masih dievaluasi dan disinkronkan dengan program pusat.

‎Tercatat sekitar 50.987 KPM telah dipasangi stiker dari estimasi 200 ribu KPM desil 1–5.

‎“Kami ingin masyarakat naik kelas, bansos hanya sementara, pemberdayaan jangka panjang,” pungkas Agus. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *