LAMONGAN – Persiapan kontingen Kabupaten Lamongan menuju Pekan Olahraga Daerah (POPDA) 2026 justru diwarnai polemik.
Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PERTINA) Lamongan melayangkan somasi kepada sejumlah atlet dan pelatih yang dipersoalkan keikutsertaannya karena diduga tidak melalui mekanisme pembinaan dan pendataan organisasi.
PERTINA keberatan dengan perubahan komposisi atlet tinju yang dipersiapkan untuk mewakili Lamongan.
Sejumlah atlet binaan yang telah menjalani latihan intensif disebut justru tergantikan oleh nama-nama lain menjelang kompetisi.
Organisasi tersebut juga mempertanyakan legalitas dan proses penetapan atlet maupun pelatih.
Pasalnya, beberapa nama yang masuk kontingen diklaim tidak tercatat dalam database pembinaan resmi PERTINA Lamongan.
Persoalan ini bukan sekadar perubahan daftar atlet, tetapi menyangkut transparansi seleksi, penghargaan terhadap proses pembinaan, serta kepastian aturan dalam menentukan wakil daerah.
Selain mekanisme seleksi, dugaan intervensi pihak tertentu dalam penentuan peserta turut menjadi sorotan.
Namun, dugaan tersebut masih membutuhkan klarifikasi dan penelusuran lebih lanjut dari pihak terkait.
Sorotan kini mengarah kepada Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) serta KONI Kabupaten Lamongan.
Keduanya diharapkan menjelaskan dasar penetapan atlet, proses verifikasi administrasi, hingga mekanisme koordinasi dengan organisasi cabang olahraga.
PERTINA mendesak adanya investigasi terbuka dengan memeriksa dokumen seleksi, data atlet, rekomendasi organisasi, serta dasar penetapan kontingen POPDA 2026.
Hingga berita ini disusun, persoalan tersebut masih menunggu penjelasan dari pihak-pihak terkait.
Klarifikasi Dispora dan KONI diperlukan agar polemik tidak merugikan atlet yang telah menjalani pembinaan panjang.
POPDA semestinya menjadi ajang pembuktian prestasi atlet pelajar.
Bukan justru menjadi polemik akibat proses seleksi yang dipertanyakan.
Transparansi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan terhadap pembinaan olahraga di Kabupaten Lamongan. (*)






