Dinilai Minim Gizi, Menu Nasi Jagung MBG di Kepohbaru Bojonegoro Dikeluhkan Wali Murid

BOJONEGORO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah kembali menjadi sorotan publik menyusul adanya keluhan terkait variasi dan kualitas menu yang diterima oleh para peserta.

Berdasarkan dokumentasi visual yang beredar, tampak satu porsi menu MBG yang disajikan dalam nampan pembagi stainless steel ini milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kepoh Dua di Wilayah Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro.

Menu yang disajikan terlihat nasi jagung, lauk berupa telur dadar dan tahu goreng, sedikit porsi tumis kacang panjang, serta sepotong buah semangka yang dikemas dalam plastik, Senin (2/11/2026).

Salah satu wali murid penerima manfaat sebut saja Dilla, mengatakan isi menu ini masih perlu dievaluasi lebih mendalam agar benar-benar memenuhi standar gizi seimbang yang ideal bagi tumbuh kembang anak dan menjadi lebih layak konsumsi. Menurutnya menu yang diberikan tidak sesuai dan layak untuk dikonsumsi pada anak.

“Baru kali ini lihat menu MBG nasi jagung, menu sayurnya juga tidak layak makan. Bagaimana jika perut anak yang tidak biasa konsumsi nasi jagung lalu menderita sakit perut, siapa yang mau tanggung jawab,” tutur Dila dengan nada heran.

Tidak hanya Dila, beredarnya gambar menu MBG tersebut menjadi kritik tajam di barbagi group Aplikasi WhatsApp. Kritik yang muncul umumnya menyoroti proporsi sayuran yang tampak minim serta variasi lauk yang dinilai kurang beragam untuk sebuah program prioritas pemenuhan gizi.

Menanggapi berbagai masukan dan kritik ini, masyarakat berharap pihak pengelola maupun Badan Gizi Nasional dapat memperketat pengawasan terhadap vendor penyedia katering.

Evaluasi berkala dinilai sangat krusial guna memastikan bahwa anggaran yang dialokasikan benar-benar menghasilkan menu yang layak, higienis, dan sesuai dengan standar kandungan gizi yang dicanangkan oleh pemerintah.

Disadur dari newssatumenit, Berita Acara BGN No 539/DISTRIBUSI/SPPGKEPOH2/X/2026 yang ditandatangani PIC B3 berinisial M.N. membongkar kualitas. Tumis Labu & Kacang Panjang skor 2 (Kurang) di semua aspek rasa, warna, aroma, tekstur. Fuyunghai skor 2 untuk aroma amis. Nasi Ampok dan Tahu Goreng skor 3 (Cukup). Catatan form: “Kurang asin hambar tahunya”. Hanya Semangka Kuning skor 4 (Baik).

Petugas Posyandu Krangkong saat dikonfirmasi meledak: “Menu ini tidak sesuai dan sering kita beri teguran tidak ada respon. Untuk balita bila nasi jagung bisa sereten, menu ini tidak layak untuk balita.”

Menurutnya, untuk menu B3 ini seharusnya berbeda tidak samas semua seperti ini, balita dipaksa makan nasi jagung pera keras, tahu keras, dan kacang panjang utuh yang rawan seret dan tersedak.

Ia menjelaskan bila mengacu pada sesuai Juknis BGN No: 005/05/02/SK.05/05/2025 yang wajibkan menu B3 lembut dan mudah cerna.

Dampaknya banyak menu MBG program B3 menolak ambil. Agar tidak mubazir, sisa ompreng dibagi ke warga kurang mampu yang mau.

“Daripada terbuang, sisa kami bagikan ke warga kurang mampu yang mau,” ujar petugas.

Saat dikonfirmasi awak media ini melalui sambungan Aplikasi Whatsapp, Kepala SPPG Ahmad Sanusi Ghufron belum memberikan jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *