BOJONEGOROtimes.Id – Konsumsi kopi untuk menemani belajar hingga larut malam ternyata tidak selalu membuat mahasiswa lebih produktif.
Kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan dan menekan rasa kantuk, tetapi tidak menggantikan kebutuhan tidur yang cukup.
Kebiasaan mengandalkan kopi saat begadang justru berisiko mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, dan kemampuan mengingat materi.
Hal tersebut diulas Amelia Kusumasari, mahasiswa S1 Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dalam artikel opini berjudul Tipuan Secangkir Kopi: Benarkah Kafein Membuat Belajar Lebih Efektif atau Hanya Menunda Lelah?
Ia menyoroti kebiasaan mahasiswa mengonsumsi kopi demi menyelesaikan tugas dan menghadapi padatnya aktivitas perkuliahan.
Menurut Amelia, kafein bekerja dengan menghambat reseptor adenosin di otak, yakni senyawa yang berperan dalam memunculkan rasa kantuk.
Efeknya membuat seseorang merasa lebih segar dan terjaga, meskipun tubuh sebenarnya tetap membutuhkan istirahat.
“Hilangan rasa kantuk tidak berarti kebutuhan biologis tubuh akan tidur sudah terpenuhi,” menjadi pesan utama dalam ulasan tersebut.
Rasa segar setelah minum kopi tidak serta-merta menjamin kemampuan berpikir kritis, konsentrasi, maupun penyimpanan informasi berada dalam kondisi optimal.
Amelia juga mengutip penelitian Gardiner dan kolega (2023) yang menemukan bahwa konsumsi kafein dapat memangkas durasi tidur rata-rata hingga 45 menit.
Selain itu, efisiensi tidur menurun dan waktu yang dibutuhkan untuk mulai tertidur menjadi lebih panjang.
Dampaknya, mahasiswa yang terbiasa begadang sambil mengonsumsi kopi berisiko mengalami penurunan kualitas istirahat.
Padahal, tidur berperan penting dalam mendukung proses belajar, pembentukan memori, kestabilan emosi, serta kemampuan tubuh menghadapi tekanan akademik.
Ia menilai, terjaga lebih lama tidak selalu berarti belajar lebih efektif.
Mahasiswa yang memaksakan diri menyelesaikan tugas hingga dini hari bisa kesulitan memahami materi dan akhirnya harus mengulang pembelajaran karena informasi tidak tersimpan dengan baik.
“Bukan berarti mahasiswa harus memusuhi kopi sepenuhnya,” demikian inti pesan Amelia.
Konsumsi kopi tetap dapat dilakukan secara bijak dengan memperhatikan dosis, waktu minum, serta sensitivitas tubuh terhadap kafein.
Amelia menyarankan mahasiswa menghindari konsumsi kopi menjelang malam, memperhatikan kandungan kafein dan gula dalam minuman, serta mencicil tugas agar tidak terjebak sistem kebut semalam.
Strategi tersebut dinilai lebih sehat dibandingkan memaksakan tubuh tetap terjaga ketika kelelahan.
Pada akhirnya, prestasi akademik tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu belajar, tetapi juga kualitas konsentrasi, pemahaman materi, dan kecukupan istirahat.
Mengatur pola tidur dan konsumsi kafein menjadi langkah penting agar mahasiswa tetap produktif tanpa mengabaikan kesehatan. (*)












