Ketua DPRD Bojonegoro Soroti JLS Terintegrasi Flyover, Tekankan Dampak Ekonomi Warga

BOJONEGOROtimes.Id – Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, Abdullah Umar, menegaskan komitmennya dalam mengawal rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang terintegrasi dengan flyover.

‎Ia menyatakan dukungan terhadap proyek strategis tersebut karena dinilai mendesak untuk mengurai kemacetan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

‎Namun demikian, DPRD memberikan sejumlah catatan penting agar pelaksanaannya benar-benar matang.

‎Menurut Umar, pembangunan infrastruktur berskala besar harus mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh.

‎Ia menekankan bahwa perencanaan tidak boleh hanya berorientasi pada kelancaran lalu lintas, tetapi juga harus melindungi kepentingan masyarakat.

‎“Kami mendukung penuh JLS karena urgensinya jelas, tetapi jangan sampai menimbulkan persoalan baru di kemudian hari,” tegasnya, Senin (18/2/2026).

‎Salah satu perhatian utama DPRD adalah soal efektivitas penggunaan lahan.

‎Mengingat adanya arahan nasional untuk menjaga lahan produktif, Urnar meminta agar proses pembebasan lahan dilakukan dengan kajian mendalam.

‎“Konsultasi publik dan kajian teknis harus detail agar lahan pertanian yang produktif tetap terlindungi,” ujarnya.

‎Selain itu, DPRD juga menyoroti dampak ekonomi lokal di sekitar jalur yang akan dibangun.

‎Umar mengingatkan agar keberadaan JLS tidak justru mematikan usaha warga yang selama ini bergantung pada arus lalu lintas di jalur lama.

‎“Pembangunan ini harus membuka peluang ekonomi baru, bukan menutup usaha masyarakat,” imbuhnya.

‎Aspek manajemen arus kendaraan juga menjadi perhatian serius.

‎DPRD meminta agar penentuan titik akses keluar-masuk JLS dihitung secara presisi supaya tidak memunculkan kemacetan baru di kawasan lain.

‎“Jangan sampai setelah JLS jadi, muncul simpul kepadatan baru akibat perencanaan akses yang kurang matang,” kata Umar.

‎Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah memaparkan hasil studi kelayakan pembangunan JLS yang disusun Tim Pusat Kajian LKFT Fakultas Teknik UGM.

‎Proyek ini dirancang berada di sisi selatan rel kereta api dan terintegrasi dengan flyover, terutama untuk mengakomodasi kendaraan berat agar tidak lagi masuk pusat kota.

‎Kepala Dinas PU Bina Marga dan Penataan Ruang, Chusaifi Ifan, menyampaikan bahwa pada tahun 2026 proyek akan memasuki tahap penyusunan Detailed Engineering Design (DED).

‎Dokumen pengadaan tanah, AMDAL, serta analisis dampak lalu lintas juga akan disusun secara paralel untuk memastikan kesiapan administrasi dan teknis.

‎Dengan berbagai catatan dan dukungan tersebut, DPRD Bojonegoro berharap JLS benar-benar menjadi solusi jangka panjang bagi mobilitas daerah.

‎Umar menegaskan, pengawasan legislatif akan terus dilakukan agar proyek berjalan transparan dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

‎“Kami ingin JLS menjadi solusi kemacetan sekaligus penggerak ekonomi, tanpa mengorbankan kepentingan rakyat,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *