Perkuat Fisik dan Mental, Prajurit Kodim Lamongan Dalami Pencak Silat Militer

LAMONGAN – Guna meningkatkan kesiapan fisik dan ketangguhan mental prajurit, Kodim 0812 Lamongan menggelar latihan Pencak Silat Militer (PSM) secara terpusat.

‎Kegiatan tersebut dilaksanakan di Lapangan Makodim 0812/Lamongan pada Jumat (30/01/2026).

‎Seluruh prajurit mengikuti latihan dengan penuh semangat dan disiplin tinggi.

‎Latihan ini menjadi bagian dari pembinaan rutin satuan dalam menunjang tugas-tugas kewilayahan.

‎Pencak Silat Militer merupakan bela diri khas TNI yang mengombinasikan seni bela diri tradisional Indonesia dengan teknik tempur praktis.

‎Materi latihan disesuaikan dengan kebutuhan prajurit dalam menghadapi ancaman jarak dekat.

‎PSM dirancang untuk meningkatkan refleks, ketahanan fisik, serta kemampuan bertahan dalam kondisi darurat.

‎Dengan latihan berkelanjutan, prajurit diharapkan semakin siap menghadapi dinamika medan tugas.

‎Selama kegiatan berlangsung, latihan dipandu oleh instruktur internal Kodim 0812/Lamongan yang telah berpengalaman.

‎Para prajurit dibekali berbagai teknik mulai dari gerakan dasar, bantingan, kuncian, hingga antisipasi serangan tangan kosong maupun senjata tajam.

‎Setiap materi dilatihkan secara bertahap dan terukur. Hal ini bertujuan agar kemampuan bela diri prajurit semakin matang dan efektif.

‎Komandan Kodim 0812/Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, hadir langsung untuk memantau jalannya latihan.

‎Ia menegaskan bahwa penguasaan bela diri merupakan bekal penting bagi setiap prajurit.

‎“Pencak Silat Militer bukan hanya aktivitas fisik, tetapi kebutuhan dasar prajurit dalam menghadapi berbagai situasi tugas,” tegasnya.

‎Menurutnya, latihan ini membentuk kepercayaan diri, kekuatan fisik, serta naluri perlindungan diri yang optimal.

‎Lebih lanjut, Dandim menambahkan bahwa PSM juga memiliki nilai pelestarian budaya bangsa.

‎“Melalui PSM, kita tidak hanya meningkatkan kemampuan tempur, tetapi juga menjaga dan menghargai warisan budaya Indonesia,” ujarnya.

‎Nilai-nilai kearifan lokal tetap dipertahankan dan disesuaikan dengan kebutuhan militer modern.

‎Dengan demikian, prajurit tidak hanya tangguh, tetapi juga berkarakter kebangsaan yang kuat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *