Beton Mrupul Kayak Kapuk, Jalan Desa Mori Dibongkar, Bau Masalah Proyek Kian Menyengat

BOJONEGOROtimes.Id – Proyek pembangunan jalan rigid beton di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, kembali menuai sorotan tajam publik.

‎Jalan yang baru saja selesai dicor itu terpaksa dibongkar ulang.

‎Pembongkaran dilakukan setelah muncul dugaan kuat mutu beton tidak sesuai standar teknis.

‎Kondisi ini memicu kekecewaan sekaligus kekhawatiran warga setempat. Temuan di lapangan menunjukkan beton jalan tersebut mudah hancur dan rapuh. Warga menyebut kualitas fisiknya sangat memprihatinkan.

‎Istilah lokal “mrupul kayak kapuk” pun mencuat untuk menggambarkan kondisi beton. Kondisi ini dinilai berbahaya jika tetap dibiarkan digunakan.

‎Salah satu pihak yang disebut sebagai pemasok material beton, berinisial D, mengakui adanya masalah serius pada kualitas cor.

‎Ia menyatakan beton tersebut memang tidak layak digunakan untuk jalan.

‎“Ini jelas tidak layak dipasang. Kualitasnya mrupul kayak kapuk,” ujarnya, Jumat (23/2/2026).

‎Karena itu, pembongkaran dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab.

‎Menurut D, pembongkaran dilakukan pada ruas jalan sepanjang kurang lebih 60 meter.

‎Ia mengklaim akan mengganti beton lama dengan material baru yang kualitasnya lebih baik.

‎Bahkan, ia berani memberikan jaminan hasil akhir. “Cor penggantinya saya jamin kualitas jalan tol,” tegasnya.

‎Namun, pernyataan tersebut justru menimbulkan kontradiksi di tengah publik. D menegaskan bahwa perannya hanya sebatas pemasok beton.

‎Ia menyebut tanggung jawab pelaksanaan pekerjaan berada di pihak lain. “Saya cuma nyuplai cor. Yang ngerjakan ini petinggi, kades,” katanya singkat.

‎Insiden ini memunculkan tanda tanya besar terkait sistem pengawasan proyek desa. Mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan dinilai tidak berjalan optimal.

‎Uji mutu beton sebelum pengecoran pun dipertanyakan. Pengawasan teknis di lapangan dinilai sangat lemah.

‎Warga menilai kejadian ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa.

‎Mereka menyebutnya sebagai potret buruknya kontrol mutu proyek infrastruktur desa.

‎Selain berisiko membahayakan pengguna jalan, pembongkaran ulang juga dinilai mubazir anggaran.

‎“Kalau pengawasannya benar, beton selemah ini pasti tidak lolos,” kata Bambang, warga setempat.

‎Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek.

‎Instansi terkait juga belum memberikan penjelasan soal standar mutu beton yang digunakan.

‎Belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas kegagalan konstruksi tersebut.

‎Masyarakat kini menuntut transparansi dan langkah tegas agar kasus serupa tak terulang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *