Bupati Wahono Resmikan PIG Geopark Bojonegoro, Bidik Pengakuan UNESCO Dunia

BOJONEGOROtimes.Id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menunjukkan keseriusannya dalam mengangkat potensi geologi daerah ke panggung dunia.

‎Hal ini ditandai dengan peresmian Pusat Informasi Geologi (PIG) Geopark Bojonegoro oleh Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, Selasa (20/01/2026).

‎Peresmian ini menjadi langkah strategis Bojonegoro menuju predikat UNESCO Global Geopark (UGGp).

‎Kegiatan launching PIG Geopark tersebut dihadiri tokoh penting nasional dan internasional.

‎Hadir langsung Vice President Global Geoparks Network (GGN) Association Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo, serta jajaran Pemprov Jawa Timur, Forkopimda Bojonegoro, perwakilan Kementerian ESDM melalui Zoom Meeting, dan seluruh kepala OPD serta camat di lingkungan Pemkab Bojonegoro.

‎Gedung PIG Geopark yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman No. 24 Bojonegoro terdiri dari dua lantai dengan luas masing-masing 322 meter persegi.

‎Fasilitas ini dirancang sebagai pusat edukasi, riset, dan informasi ilmiah yang menampilkan 31 geosite unggulan milik Bojonegoro, termasuk fenomena minyak tradisional Wonocolo yang dikenal sebagai Texas van Java.

‎Dalam sambutannya, Bupati Setyo Wahono menegaskan bahwa konsep geopark tidak hanya berbicara tentang batuan dan lanskap.

‎Lebih dari itu, geopark adalah narasi tentang hubungan manusia dengan alam yang diwariskan lintas generasi.

‎“Geopark bukan sekadar pelestarian geologi, tetapi bagaimana kita merangkai cerita antara alam, sejarah, dan kehidupan masyarakat,” ujar Setyo Wahono.

‎Ia juga menekankan bahwa Bojonegoro memiliki peran strategis secara nasional sebagai daerah penghasil minyak.

‎Namun, kekuatan utama untuk diakui dunia terletak pada nilai edukasi, budaya, dan keberlanjutan yang menyertainya.

‎“PIG ini adalah komitmen Bojonegoro untuk menjadi rujukan geologi dan pembelajaran bertaraf internasional,” tambahnya.

‎Kabupaten Bojonegoro sendiri tercatat memiliki lima kawasan cagar alam geologi, yakni Petroleum System Wonocolo, Struktur Antiklin Kawengan, Kayangan Api, Kedung Lantung, serta Fosil Gigi Hiu Temayang.

‎Seluruhnya menyimpan nilai ilmiah tinggi dan potensi besar untuk pengembangan geowisata.

‎Selain kekayaan geologi, Bojonegoro juga memiliki lanskap budaya dan sejarah yang kuat.

‎Keberagaman tradisi masyarakat serta jejak sejarah eksplorasi minyak menjadi daya tarik tersendiri yang memperkaya konsep geopark sebagai pusat pembelajaran modern dan wisata berkelanjutan.

‎“Geopark ini bukan hanya milik Bojonegoro, tetapi kebanggaan Indonesia. Mari kita jaga bersama untuk generasi mendatang,” ajak Bupati Setyo Wahono kepada seluruh elemen masyarakat.

‎Sementara itu, Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo menjelaskan bahwa sejak kunjungan pertamanya pada 2017, Bojonegoro telah menunjukkan kemajuan signifikan.

‎Dari status Aspiring National Geopark, kini Bojonegoro dinilai semakin siap menuju pengakuan UNESCO Global Geopark.

‎Menurutnya, Wonocolo menjadi ikon unik yang tidak dimiliki daerah lain di dunia.

‎Hubungan erat antara sumber petroleum dan aktivitas tambang tradisional masyarakat menjadi nilai warisan luar biasa yang memiliki kekuatan cerita global.

‎“Ini satu-satunya contoh di dunia di mana manusia dan petroleum hidup berdampingan secara historis,” ungkapnya.

‎Dato’ Ibrahim juga menegaskan bahwa proses menuju UNESCO membutuhkan kesiapan maksimal.

‎Evaluasi akan dilakukan dalam 4–5 bulan ke depan, sehingga diperlukan kerja keras dan perbaikan di berbagai aspek.

‎“Kami hadir untuk membantu memastikan Bojonegoro memenuhi seluruh kriteria penilaian UNESCO,” pungkasnya. (Prokopim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *