‎Al-Hikam Bab Pertama: Ketika Amal Tak Lagi Jadi Sandaran, Rahmat Allah Menjadi Tujuan

BOJONEGOROtimes.Id – Kajian bab satu atau pertama dari kitab Alhikam karangan Syeh Ahmad ‘Athoillah, tentang ‘tuntunan menyandar bulat kepada rahmat Allah’.

‎”Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat kurnia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan / dosa”. (Bab 1)

‎Kalimat: Laa ilaha illalloh. Tidak ada tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah.

‎Tidak ada yang menghidupkan. dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah.

‎Dhohirya syari’at menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada kurnia rahmat Allah.

‎Kalimat: Laa haula wala quwwata illa billahi. Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan.

‎Juga tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali hanya dengan pertolongan Allah dan kurnia rahmatNYA.

‎Firman Allah: (QS: Yunus 59).

‎”Katakanlah Hanya karena merasakan kurnia rahmat Allah-lah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri”.

‎Sedang bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada kurnia rahmat Allah yang memberi taufiq, hidayat kepadanya.

‎Yang akhirnya pasti jadi ‘ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagai-mana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam, ia berkata:

‎”Aku lebih baik dari dia” (Adam).

‎Juga telah terjadi pada Qaarun yang diceritakan dalam Alqur’an Surat Al-Qashash: 78, ia berkata,

‎”Sesungguhnya Aku mendapat kekayaan ini karena ilmuku semata-mata”.

‎Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia.

‎Maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri.

‎Merasa seolah sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongaNYA, tanpa rahmat taufiq hidayat dan kurnia Allah.

‎Sedangkan kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as, ketika ia menerima ni’mat kurnia Allah, ketika mendapat istana raja Balqis.

‎Dalam Alqur’an Surat Annaml 40, Nabi Sulaiman mengatakan

‎”Ini semata – mata dari kurnia Tuhanku, untuk menguji pada. ku, apakah bersyukur (terima kasih) atau kufur (lupa pada Allah). Maka siapa yang syukur, maka syukur itu untuk dirinya. Dan siapa yang kufur, maka Tuhanku dzat yang terkaya lagi pemurah (tidak berhajat sedikitpun dari makhluknya, bahkan makhluk yang ber-hajat kepadaNya)”.

‎Sumber: Kitab Alhikam, oleh Syeh Ahmad Ibnu ‘Athoillah, diterjemah oleh H. Salim Bahreisy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *