LAMONGAN – Waktu seakan berhenti di Dusun Dondomaman, Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, saat air tak juga meninggalkan permukiman warga.
Kondisi yang sering disebut “genangan” oleh sebagian pihak, bagi warga setempat sudah lama berubah menjadi banjir yang menetap.
Situasi ini bukan berlangsung hitungan hari, melainkan berbulan-bulan tanpa kepastian surut.
Sejak November 2025, air terus menggenangi rumah dan jalan tanpa jeda berarti.
Hingga Maret 2026, ketinggian air masih bertahan, bahkan mencapai sekitar 30 sentimeter di dalam rumah warga.
Kondisi ini menjadikan aktivitas sehari-hari penuh keterbatasan dan ketidaknyamanan yang berkepanjangan.
Kepala Dusun Bojoasri, Suparjo, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa lagi dianggap ringan.
“Lima bulan, bukan 90 hari. Sejak November air sudah datang dan sampai sekarang masih ada. Di depan rumah saya sekitar 30 sentimeter,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penggunaan istilah yang dinilai tidak sesuai dengan realita di lapangan.
“Sebenarnya, kata ‘genangan’ itu menyakitkan bagi kami. Ini bukan lagi genangan, ini sudah banjir. Rasanya seperti banjir dulu, baru ada antisipasi,” tegasnya.
Kehidupan warga pun berubah drastis di tengah kondisi tersebut.
Jalan desa yang biasa dilalui kini tertutup air akibat luapan Bengawan Jero, memutus akses penting bagi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Untuk beraktivitas, warga harus menggunakan rakit bambu sebagai sarana mobilitas.
Air yang mulai berbau juga menjadi persoalan baru, memicu kekhawatiran terhadap kesehatan, termasuk risiko penyakit kulit dan gangguan lainnya.
Menjelang Idul Fitri 1447 H, suasana yang biasanya penuh kehangatan justru dihadapkan pada keterbatasan.
Warga tetap ingin menjaga tradisi silaturahmi, meski kondisi lingkungan tidak mendukung seperti biasanya.
Di tengah kesulitan tersebut, semangat gotong royong justru tumbuh kuat di kalangan masyarakat.
Warga berinisiatif membangun jembatan bambu darurat secara swadaya tanpa menunggu bantuan dari pihak luar.
Salah satu warga, Afifuddin, menyebut pembangunan jembatan itu sebagai bentuk menjaga martabat sosial.
“Kami tidak mau lebaran nanti tamu harus nyemplung air. Jembatan ini kami bangun agar silaturahmi tetap jalan,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa menunggu air surut bukan pilihan yang realistis dalam waktu dekat.
“Kalau menunggu air kering, mungkin lebaran tahun depan baru bisa salaman,” katanya.
Pembangunan jembatan dilakukan dengan dana dan tenaga masyarakat sendiri.
Tanpa prosedur rumit, warga bergotong royong merakit bambu di atas genangan air demi menciptakan akses yang layak.
Upaya tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Ketua II DPRD Lamongan, Husen, S.Ag., M.Pd. Ia menilai langkah warga sebagai bentuk kemandirian dalam menghadapi bencana.
“Apa yang dilakukan masyarakat Bojoasri adalah langkah cerdas dalam situasi terbatas. Spirit gotong royongnya luar biasa,” ujarnya.
Namun demikian, ia juga mengakui adanya kendala dalam percepatan pembangunan infrastruktur.
“Selama ini penanganan lebih fokus pada korban, seperti kesehatan dan bantuan sosial. Ke depan, harus ada alokasi khusus untuk infrastruktur darurat,” jelasnya.
Warga juga menyoroti persoalan yang terus berulang setiap tahun tanpa solusi tuntas.
Mereka mempertanyakan mengapa saat musim kemarau, ketika air surut, tidak dilakukan perbaikan seperti normalisasi sungai atau pengerukan sedimentasi.
Pertanyaan tersebut menjadi kegelisahan yang terus muncul di tengah masyarakat.
“Kalau saat kering tidak dikerjakan, lalu kapan lagi?” menjadi suara yang terus bergema tanpa jawaban pasti.
Keluhan serupa juga datang dari warga lain di kawasan Bengawan Jero yang memilih tidak disebutkan identitasnya.
Mereka menilai kondisi ini seolah menjadi siklus tahunan yang tak pernah benar-benar diselesaikan.
“Ini sudah biasa setiap tahun. Mau mengeluh juga percuma, ujungnya hanya menguntungkan orang atas saja,” ujarnya dengan nada kecewa.
Kecurigaan pun muncul bahwa kondisi tersebut hanya dimanfaatkan tanpa solusi nyata.
“Kalau begini terus, bantuan ke pusat bisa terus diajukan. Tapi apakah menyelesaikan masalah? Tidak,” tambahnya.
Di tengah situasi yang menekan kehidupan warga, berbagai aktivitas seremonial tetap berjalan seperti biasa.
Namun bagi masyarakat terdampak, yang terasa hanyalah penantian panjang akan perubahan nyata.
Persoalan ini bukan semata soal anggaran, tetapi juga menyangkut arah kebijakan dan keberpihakan.
Warga berharap ada langkah konkret yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar penanganan sementara.
Bengawan Jero kini bukan hanya wilayah yang tergenang air, tetapi juga mencerminkan persoalan yang terus berulang.
Di satu sisi, warga menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam bertahan.
Di sisi lain, harapan akan solusi nyata masih menggantung tanpa kepastian.
Pertanyaan besar pun muncul, apakah kondisi ini akan terus menjadi kebiasaan, atau akan ada perubahan yang nyata.
Pada akhirnya, air mungkin belum akan surut dalam waktu dekat.
Namun keadilan dan kepedulian, diharapkan tidak ikut ten
ggelam bersama genangan yang terus bertahan. (*)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,