BOJONEGOROtimes.Id – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kembali membuka ruang komunikasi terbuka dengan masyarakat melalui Dialog Interaktif “Sapa Bupati” yang digelar di Pendopo Malowopati, Senin (19/1/2026).
Kegiatan ini menjadi sarana bagi warga Bojonegoro untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mendapatkan penjelasan langsung terkait kebijakan daerah.
Fokus utama dialog kali ini menyoroti isu pendataan sosial serta mekanisme penyaluran bantuan pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Antusiasme warga terlihat dari berbagai pertanyaan yang disampaikan secara langsung kepada jajaran Pemkab.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bojonegoro, Agus Susetyo Hardiyanto, menyampaikan bahwa pada tahun 2026 pemerintah daerah menargetkan angka kemiskinan berada di kisaran 10,55 persen.
Angka tersebut setara dengan sekitar 96.400 jiwa dan menjadi dasar utama dalam perencanaan program perlindungan sosial.
Menurutnya, ketepatan data menjadi faktor krusial agar intervensi pemerintah benar-benar menyentuh kelompok yang membutuhkan.
“Target ini menjadi acuan kami agar bantuan sosial lebih efektif dan terukur,” jelasnya.
Agus, yang akrab disapa Anto, menjelaskan bahwa sistem pendataan bantuan sosial kini mengalami transformasi besar.
Sejak Juli 2025, pemerintah pusat resmi menerapkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai satu-satunya rujukan bantuan sosial.
Kebijakan ini mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 dan Perpres Nomor 3 Tahun 2025.
“Sekarang semua data disatukan dalam DTSEN agar lebih akurat dan tidak saling tumpang tindih,” ujar Anto.
Ia menambahkan, sebelumnya data penerima bantuan berasal dari berbagai sumber yang kerap tidak sinkron.
Mulai dari DTKS, BPJS, hingga data sektoral lainnya, sering kali memicu ketidaktepatan sasaran.
Dengan DTSEN, pemerintah berharap penyaluran bantuan menjadi lebih adil dan transparan.
“Integrasi data ini adalah langkah besar dalam reformasi perlindungan sosial,” imbuhnya.
Proses pemutakhiran data DTSEN dilakukan secara berjenjang dan partisipatif.
Perbaikan data diawali dari musyawarah desa, kemudian diverifikasi oleh SDM PKH, dan diteruskan ke Pemkab Bojonegoro.
Selanjutnya, data tersebut diusulkan ke Kementerian Sosial RI untuk ditetapkan secara nasional.
“Validasi berlapis ini penting agar data benar-benar mencerminkan kondisi riil masyarakat,” terang Anto.
Dalam DTSEN, masyarakat dikelompokkan berdasarkan tingkat kesejahteraan ekonomi.
Desil 1 dan 2 menjadi prioritas utama penerima bantuan karena termasuk kelompok paling rentan.
Kategori ini mencakup warga tanpa pekerjaan tetap, lansia terlantar, hingga keluarga dengan anggota disabilitas berat.
“Kelompok ini menjadi fokus utama intervensi sosial pemerintah,” katanya.
Sementara itu, kelompok desil 3 hingga 5 masih memiliki peluang menerima bantuan.
Namun sifatnya dinamis dan sangat bergantung pada perubahan kondisi ekonomi keluarga.
Data dapat naik atau turun sesuai hasil evaluasi dan verifikasi lapangan.
“Karena itu, pembaruan data harus dilakukan secara berkala,” jelas Anto.
Melihat masih minimnya desa yang aktif mengajukan pembaruan data, Pemkab Bojonegoro mengambil langkah strategis.
Pada akhir 2025, Bupati dan Wakil Bupati menggandeng BPS Kabupaten Bojonegoro untuk mempercepat pendataan menyeluruh.
Pendataan dilakukan terhadap seluruh warga, bukan hanya kelompok tertentu.
“Ini bukan soal mencari siapa yang miskin, tetapi membangun basis data yang adil dan akurat,” tegas Anto.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono dalam sambutannya menegaskan pentingnya dialog langsung dengan masyarakat.
Menurutnya, Sapa Bupati menjadi ruang evaluasi sekaligus kontrol publik terhadap kinerja pemerintah daerah.
Ia mengapresiasi seluruh masukan dan aspirasi yang disampaikan warga.
“Semua yang disampaikan hari ini akan kami jadikan bahan perbaikan ke depan,” ujarnya.
Menanggapi pemasangan stiker pendataan di rumah warga, Bupati menjelaskan hal tersebut bagian dari verifikasi lapangan.
Stiker digunakan untuk memastikan kesesuaian data dengan kondisi nyata di lapangan.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama bantuan sosial bukan sekadar memberi, tetapi memberdayakan.
“Kami ingin masyarakat bangkit, mandiri, dan tidak terus bergantung pada bantuan,” pungkasnya. (*)












Bojonegorotimes.id adalah media online berbasis di Bojonegoro, serta fokus pada pemberitaan di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Sejak awal,