Dari Kebun Belimbing hingga Kayangan Api, UNESCO Kagumi Geopark Bojonegoro

BOJONEGOROtimes.Id – Vice President of UNESCO Global Geopark (UGGp) Prof. Ibrahim Komo bersama tim melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah situs geologi unggulan di Kabupaten Bojonegoro, Minggu (18/1/2026).

‎Kunjungan ini menjadi bagian dari penilaian potensi Geopark Bojonegoro menuju jejaring geopark dunia.

‎Pakar geologi asal Malaysia tersebut menyampaikan apresiasi terhadap kekayaan alam dan keterlibatan masyarakat lokal Bojonegoro.

‎Menurutnya, Bojonegoro memiliki keunikan geologi yang jarang dimiliki daerah lain.

‎Kunjungan diawali di kawasan Agrowisata Belimbing Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Prof. Ibrahim menilai kawasan ini sebagai contoh sukses adaptasi masyarakat terhadap lingkungan rawan bencana.

‎Wilayah yang dahulu kerap dilanda banjir kini mampu berkembang menjadi pusat ekonomi berbasis pertanian.

‎“Ini adalah contoh nyata bagaimana masyarakat mampu mengubah tantangan alam menjadi peluang berkelanjutan,” ujar Prof. Ibrahim Komo.

‎Ia juga menekankan bahwa kebun belimbing tersebut memiliki nilai edukasi yang tinggi.

‎Tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata, kawasan ini dinilai relevan sebagai sarana pembelajaran lingkungan.

‎Konsep agro-geologi yang diterapkan dinilai mampu mendukung ketahanan pangan.

‎“Kawasan ini bisa menjadi laboratorium alam bagi pelajar dan peneliti,” katanya.

‎Rombongan UGGp kemudian melanjutkan kunjungan ke Museum 13 yang berada di kompleks SDN II Panjunan, Kecamatan Kalitidu.

‎Prof. Ibrahim memberikan perhatian pada sistem administrasi dan dokumentasi sejarah yang dimiliki museum tersebut.

‎Menurutnya, aspek legalitas dan pencatatan ilmiah menjadi fondasi utama geopark yang diakui dunia.

‎“Geopark kuat tidak hanya indah, tetapi juga memiliki dokumentasi yang sah dan terstruktur,” tegasnya.

‎Keberadaan Museum 13 dinilai sebagai bukti keseriusan Bojonegoro dalam mengelola warisan geologi dan sejarah.

‎Artefak serta arsip yang tersimpan menjadi rujukan ilmiah yang penting.

‎Hal ini memperkuat posisi Bojonegoro dalam jaringan geopark internasional. Museum juga berperan sebagai pusat edukasi publik yang berkelanjutan.

‎Tim ahli UNESCO Global Geopark juga meninjau kawasan geologi di wilayah utara Bojonegoro.

‎Lokasi yang dikunjungi meliputi Antiklin Kawengan dan kawasan Texas Wonocolo.

‎Kedua wilayah tersebut menunjukkan struktur geologi unik serta sejarah panjang pertambangan minyak tradisional.

‎“Keaslian aktivitas tambang rakyat di sini memiliki nilai warisan dunia,” ungkap Prof. Ibrahim.

‎Selain potensi geologi, Prof. Ibrahim menyoroti kekuatan ekonomi kreatif masyarakat sekitar hutan jati.

‎Kerajinan kayu jati dinilai memiliki prospek besar dalam mendukung ekonomi sirkular.

‎Aktivitas ini juga memperlihatkan keterkaitan antara konservasi alam dan kesejahteraan warga.

‎“Produk berbasis jati ini bisa menjadi identitas ekonomi lokal yang berkelanjutan,” pungkasnya.

‎Sebelumnya, pada Sabtu malam (17/1/2026), tim UGGp mengunjungi objek wisata geologi Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

‎Fenomena api abadi yang muncul dari dalam bumi memberikan kesan visual dan ilmiah yang kuat.

‎Prof. Ibrahim mengamati langsung kestabilan gas alam yang menjadi sumber api tersebut.

‎Kayangan Api dinilai sebagai ikon geologi yang memiliki nilai global. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *